Rabu, 14 April 2010

Analogi pemerintahan: Negara.....perlukah?

Pengantar
Tulisan ini merupakan kegelisahan saya mengenai kredibilitas negara dealam mensejahterakan rakyatnya. walaupun sangat picik sekali rasanya ketika mempertanyakan kredibilitas negara dalam hal mensejahterakan rakyatnya, namun ada sedikit kegelisahan dari anak bangsa "kata seorang penggemar nasionalisme" yang akan saya tulis dalam blog ini..
Analogi Pemerintah
Kalau saya analogi-kan negara merupakan sebuah motor, Mesin merupakan sistem pemerintahanya (demokrasi, liberal, sosialis,dll), kemudian rakyat disini sebagai bensin nya,setelah mesin di hidupkan dengan bensin maka apa yang terjadi lampu menyala dengan terang, motor melaju dengan kencang, namun si bensin berlalu melalui knalpot berupa limbah yang kotor dan tidak menyehatkan..ya itulah rakyat...
Lalu siapa elite-elite yang menjalankan negara atas nama rakyat?dia lebih mahal dari rakyat (bensin), para elite itu kita analogikan pelumas, sebenarnya bahan utamanya seperti rakyat namun nasibnya dia lebih tinggi sedikit daripada rakyat biasa, sebenarnya ada pelumas tidak ada bensin motor tidak bisa jalan, namun pada kenyataanya pelumas selalu mengklaim bahwa motor lari kencang akibat pelumasnya yang bersih dan profesional, padahal pelumas (pemerintah) menghalalkan segala cara untuk mesinya bisa jalan semaksimal mungkin tanpa melihat kapasitas bensin nya (rakyat nya ) akibatnya eksploitasi alam sebesar-besarnya atas nama rakyat tanpa mempedulikan dampaknya...
mengapa saya analogikan begitu kacau nya sebuah negara, ada beberapa penemuan konkret yang saya pikir mendukung analogi yang saya ungkapkan tadi..sistem pemerintahan apapun sebenarnya merugikan kita dan alam, mengapa tidak..?di negara antah berantah dengan sok bijaknya keluar kebijakan publik (seolah-olah untuk publik) "seluruh bumi,air dan udara adalah milik negara, kemudian sektor-sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat" lalu apa yang terjadi? eksploitasi atas nama negara merajalela, kerusakan alam atas nama negara merajalela namun dengan enaknya negara mengatakan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,padahal jelas aturan yang dibuat itu berpotensi merusak bumi, air dan udara yang kita miliki, sungguh kontras sekali yang memperjuangkan untuk rehabilitasi adalah pihak-pikak non pemerintahan (LSM, NGO), lalu untungnya kita punya negara apa ya...??? itu yang mungkin harus kita renungkan lagi sebagai rakyat yang nantinya akan keluar dari knalpot akibat mesin (negara)..tidak hanya itu saja rakyat harus berkontribusi kepada negara dengan mengeluarkan pajak pada setiap aktifitas yang kita kerjakan, namun timbal baliknya hanya si pelumas (pemerintah) yang seharusnya bisa mengelola sistem dengan baik untuk menghasilkan akselerasi yang maksimal malah bermain-main dengan hasil keringat rakyatnya..waduh..sungguh harus dipertanyakan kredibilitasnya ini...??
Mungkin sebagian orang mengatakan saya terlalu dini untuk menganalogikan sebuah pemerintahan,mungkin yang diatas hanya contoh untuk negara berkembang atau mungkin lebih tepatnya negara kita, tapi saya juga ingin memberi contoh untuk negara maju yang biasa orang menyebutnya negara adidaya,,,kita tahu dana yang dihabiskan oleh negara adidaya untuk menginvansi negara-negara yang bertententangan dengan mereka atas nama perdamaian..? semua dana yang bertriliunan itu asalnya dari hasil keringat rakyatnya yang dilegalisasi dengan nama pajak,lalu pertanyaan kita di mana kredibilitas negara dalam mensejahterakan rakyatnya, lha wong uang rakyatnya digunakan buat perang...

Negeri Diatas Awan
Impian saya dan mungkin impian kita semua adalah kita punya negri diatas awan yang semuanya bisa dilakukan dengan mantra "brakadbra..", namun sangat tidak mungkin sekali nampaknya..atau seperti semut yang dengan semangat gotong-royongnya mengangkat beban yang berat bersama-sama,.itu tidak mungkin juga...lalu apa impian kita sebenarnya? Impian kita hidup disuatu tempat yang setiap individunya sadar akan kebebasan berfikir, berkompetisi, berkarya tanpa adanya sebuah aturan yang dipaksakan untuk mengikat kita,,,