Oleh: Tahmid Fitrianto1
Rather than police the margins of the discipline, let’s stretch them. Geography is an open, vibrant and exciting place to be. (Adam Tickell; RGS Newsletter, December 2002)2
Sebenarnya tulisan ini adalah keresahan yang selama ini saya alami, ada guncangan-guncangan pertanyaan yang sampai sekarang ini belum terjawab oleh keadaan. Mengapa dalam geografi tidak se-seksi Hkn yang selalu membincangkan negara, atau SosAnt yang selalu merisaukan kondisi masyarakat, atau bahkan ekonomi yang selalu memperdebatkan sistem ekonomi yang ideal. Sebenarnya yang saya permasalahkan bukan masalah apa yang dibicarakan tapi adakah tokoh geografi kita yang mau men-dinamiskan ilmu ini.
Padahal seperti dikatakan kutipan diatas bahwa geografi itu, is an open (terbuka), vibrant (bergetar), and exciting place to be (sesuatu yang menggairahkan). Nampaknya lingkungan geograf di Indonesia atau scope yang paling kecil lingkungan akademik kita tidak terlihat dinamis membicarakan geografi. Dunia barat sudah dinamis membicarakan masalah geografi, ada beberapa buku yang saya temui seperti Questioning Geography: Fundamental Debates, karya Noel Castree dkk, memasalahkan bagaimana mendebatkan geografi secara umum, atau buku yang berjudul A critical introduction to cartography and GIS, karya Jeremy W. Crampton, yang memberikan sebuah pengantar geografi yang kritis, hingga mengkritik kartografi yang berkembang sekarang. Yang lebih mengagetkan lagi, ternyata ada buku geografi keuangan, Financial geography (A banker’s views) karya Risto Laulajainen.
Kompleksnya objek kajian geografi merupakan sebuah hasil proses diskusi panjang oleh tokoh-tokoh geograf kita. Jadi tidak ada alasan sebenarnya untuk tidak men-dinamiskan geografi pada saat sekarang ini. Ada banyak celah sebenarnya untuk mendiskusikan masalah sosial maupun fisik dalam konteks geografi,contoh yang jelas ketika ada gempa bumi, kita seolah-olah meng-amini apa yang dinyatakan oleh BMKG, tanpa ada kecurigaan dalam konteks ilmiah kemudian ada perdebatan yang dinamis, atau bahkan yang parah lagi dari kakek saya kuliah geografi hingga saya kuliah sekarang refrensinya masih sama saja, kalau tidak Katili, I made Sandi..ya paling mentok Bintarto, lalu bagaimana kita bisa bergairah untuk mendiskusikan geografi. Padahal ketika cara pembelajaran dilingkungan akademik dilakukan dengan metode kontroversi, mungkin kita akan bergairah untuk mendiskusikan geografi.
Para geograf kita seolah-olah “nrimo ing pandom” dengan karya yang telah diciptakan para pendahulunya tanpa ada rasa cemas sebenarnya apa yang mereka bicarakan itu benar atau tidak. Kadang saya membayangkan ketika dalam studi ini banyak pemikiran kritis yang kami konsumsi maka kami akan selalu bergairah untuk membicarakan segala permasalahan dalam konteks geografi, namun sayangnya kebutuhan konsumsi kami saja tidak terpenuhi apa lagi akan membicarakan yang tidak-tidak tentang geografi malah kita dikira nge-gosip.J Parahnya lagi kita bisa meng-akses ilmu-ilmu geografi hanya dilingkungan akademik saja, seolah tidak ada ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari geografi. Munculnya tokoh-tokoh geografi baru tentunya tidak dilahirkan begitu saja, lalu kemudian apabila keadaan yang tenang-tenang seperti ini apakah mungkin ada tokoh geografi baru yang lahir. Atau bahkan apakah kita bisa membicarakan geografi se-seksi yang ada dibarat. Hm....??? J
Refrensi:
1 Tulisan untuk diskusi mingguan BPMG
2 Questioning Geography: Fundamental Debates, karya Noel Castree dkk.
A critical introduction to cartography and GIS, karya Jeremy W. Crampton.
