Pagi itu si Tono dengan semangat membawa selembar kertas yang terbungkus rapi di stopmap dengan segala pirantinya, ia berharap dengan lembaran yang biasa orang menyebutnya ”ijazah” dapat memberikan dia pekerjaan. Kemudian sore itu dia pulang dengan wajah tertunduk penuh kecewa karena ijazah-nya tidak bisa berbuat apa-apa, padahal selembar kertas itu dia dapatkan dari jerih payah kuliah selama bertahun-tahun.
Cerita diatas merupakan sebuah potret nyata dampak dari selembar kertas yang disebut ijazah. sebagian besar dari kita terjebak pada simbol-simbol yang anehnya dikeluarkan dari mimbar akademik. Ijazah dianggap sebagai manuskrip sakral yang bisa memberikan ia pekerjaan dan apabila benda itu rusak sedikit saja bisa dianggap murtad (tidak diakui secara akademis), sehingga mereka menjaganya dengan sepenuh hati. Memang aneh tapi nyata, namun ini potret sistem yang dianggap benar oleh negara ini.
Gara-gara satu lembar yang bernama ijazah maka ada banyak profesi, semisal guru dengan ijazah S.Pd nya, Insinyur, dokter dan banyak profesi aneh-aneh yang dibuktikan dengan selembar kertas itu. Yang anehnya lagi, mereka mengklaim bukan dengan skill yang mereka miliki tapi dengan selembar kertas ijazah. Sadar atau tidak bahwa ijazah banyak menimbulkan masalah, berikut beberapa temuan aneh yang disebabkan oleh ijazah:
1. Dari prosesnya saja sudah menimbulkan diskriminasi, betapa tidak ketika masyarakat dunia menyuarakan education for all namun kenyataanya akses pendidikan negara ini milik orang kaya. Sehingga ada istilah pelajar, putus sekolah,orang terbelakang, dan banyak istilah yang disematkan kepada mereka yang tidak sekolah, yang tentunya tidak pula punya ijazah. Sehingga kasus diskriminasi nampak disini, akibat ulah simbol akademik. Bayangkan saja apabila sekolah hanya untuk akses mendapatkan skill, pasti orang nongkrong dibengkel saja bisa jadi insinyur mesin dan pengamen bisa jadi sarjana seni.
2. Banyaknya orang yang ingin gelar namun dengan ijazah, maka banyak kasus juga ijazah abal-abal atau bahkan yang ekstrim lagi gara-gara pengen ijazah doktor harus bersusah payah plagiat disertasi. Yang lebih kasihan lagi gara-gara pengen punya ijazah sarjana mereka harus merelakan hijrah kekota besar dari rumahnya yang terpencil diatas sana, hingga menghabiskan aset yang dimilki keluarganya.
3. Ijazah menentukan nasib seseorang, hal ini nampak nyata-nyata di institusi pemerintahan kita. Walaupun ada orang punya skill bagus namun tidak punya ijazah maka tidak sedikitpun mereka berhak untuk bekerja di institusi pemerintah. Padahal tidak sedikit mereka yang punya kemampuan yang baik, namun tidak punya lembaran kertas itu dan tidak sedikit pula yang punya ijazah tapi tidak punya kemampuan yang diterangkan dalam ijazah. Dengan alih-alih untuk pengakuan, terlalu picik apabila kita lebih percaya yang punya ijazah.
Sebenarnya banyak hal-hal konyol disekitar kita gara-gara ulah selembar kertas yang dianggap sakral. Kritik ini sebenarnya sudah dilakukan di India dengan merilis film “3 idiots” yang menghadirkan sosok Rancho yang ingin mengubah sistem pendidikan,ketika melihat film itu rasa-rasanya problem itu sama seperti dinegara kita.
Kalau tidak ada ijazah, lalu bagaimana kita harus mengakui orang tersebut mampu dalam bidangnya? Sebenarnya masalah ini sudah diterapkan dinegara ini seperti sistem pendidikan pesantren (yang saya contohkan sistemnya bukan content ajaranya). Pesantren setidaknya mengajarkan sistem pendidikan yang fair, misalnya ketika santri itu menyelesaikan pendidikanya mereka tidak diberi ijazah yang menunjukan bahwa santri tersebut sudah sampai kitab apa, dan jenjang apa. Masyarakat hanya menilai bahwa santri tersebut diakui sebagai pedakwah kalau dia punya kemampuan da’wah, begitu juga santri diakui jadi pengajar atau guru spiritual apabila dia mampu mengajarkan ilmunya, disini jelas pengakuan masyarakat hanya dari skill jadi orang luar yang bukan lulusan pondok juga punya akses menjadi pedakwah atau guru spiritual tanpa harus menunjukan ijazah lulusan pondok. Kalau pendidikan pondok pesantren saja bisa se-fair itu, mengapa tidak sistem pendidikan negara ini juga bisa fair seperti institusi tersebut?hm....hanya kita yang tau....
Senin, 20 September 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
