Selasa, 14 Desember 2010

Catatan Tentang : Logika Tindakan, Logika Formal Dan Sistem Etika (#1)

Oleh Tahmid Fitrianto
Tulisan ini berawal dari kecurigaan saya tentang tingkah-tingkah unik yang timbul dari lingkungan sekitar saya. Tingkah laku yang menurut saya tidak lazim pada umumnya, beragam alasanya dari masalah prinsip ataupun idealisme yag selama ini mereka yakini. Mungkin anda juga pernah melihat hal yang sama dengan saya, dengan alasan yang berbeda pula tentunya. Lalu pertanyaanya apa sih sebenarnya dibalik motif yang mereka lakukan? Atau jangan-jangan malah kita yang dianggap aneh oleh lingkungan sekitar kita? Dalam tulisan ini saya berusaha memaksa menghubung-hubungkan masalah logika dasar, teori tindakan (praksiologi) dan teori etika dasar, dengan literatur seadanya yang saya peroleh dari perpus maupun buku warisan...mudah-mudahan bisa menemukan korelasi ketiga konsep tersebut yang sama-sama membahas tentang manusia. Memang, tulisan ini terlihat subyektif dengan ini harapanya masih ada celah untuk ruang diskusi karena saya tidak membatasi pendapat anda semua.
Logika Sebagai Motif Awal Tindakan Manusia
Sebelum membahas terlalu jauh, maksud dari logika dalam sub-bab tulisan ini adalah bahwa logika merupakan teknik atau cara manusia untuk meneliti ketepatan/kebenaran dari penalaranya (penalaran dirinya atau penalaran orang lain). Penalaran atau lebih enaknya disebut dengan buah pikiran, itu sendiri dipengaruhi oleh pengalaman empirik dan sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat (wajar). Dari penalaran tersebut kita dapat mengambil sebuah proposisi atau pernyataan yang diyakini kebenaran atau kesalahanya oleh individu maupun oleh manusia pada umumnya. Oleh karena itu, logika menurut saya merupakan pemicu awal dari apa yang akan kita lakuakan (pemicu tindakan manusia). Misalnya, karena saya yakin kalau cuaca mendung itu hari akan hujan maka saya memutuskan untuk tidak keluar rumah atau saya keluar rumah tapi bawa payung karena saya tidak ingin kehujanan. Dari contoh tersebut merupakan sebuah pengambilan keputusan tindakan yang didasari oleh penalaran manusia(atau dalam logika dasar bisa disebut penyimpulan /konklusi).
Dalam menyimpulkan penalaran-penalaran yang kita miliki dapat juga berpotensi terjadi penyimpangan atau dalam logika dasar disebut Kesesatan (fallacy), secara umum ada 2 sebab kesesatan, yang pertama adalah kesesatan karena bahasa maksudnya kesesatan yang ditimbulkan karena ketidaksamaan dalam mengartikan suatu kata/lebih luasnya bahasa. Yang kedua adalah kesesatan relevansi yaitu kesesatan karena kesalahan dalam penalaranya maupun dalam menyimpulkanya (konklusinya) atau gampangnya karena penalaran maupun konklusinya tidak relevan. Lalu apa dampaknya kesesatan bagi tindakan manusia? Tentu saja orang yang mengalami kesesatan adalah orang yang beda pengertian-nya dari orang umum sehingga tindakanya pun akan berbeda sekali dengan orang umum lainya. Misalnya saya yakin bahwa Andi meninggal akibat diserang oleh perampok karena ada bekas goresan ditanganya, padahal menurut dokter Andi meninggal bukan karena lukanya tetapi akibat serangan jantung yang dideritanya sewaktu dirampok. Dari contoh tersebut saya mengalami kesesatan yang berakibat tindakan saya yang langsung menghakimi perampok tersebut. Namun dalam hal kesesatan ini saya tidak berani meyakini untuk menyimpulkan seseorang mengalami kesesatan atau tidak karena dalam menyimpulkan harus tidak terbatas secara numerik maupun secara temporal. Maksudnya fakta tersebut harus bisa dibuktikan dalam waktu kapan saja dan berapapun jumlah percobaanya hasilnya harus sama baru itu disebut sahih atau tidak sesat.
Tindakan Manusia Sebagai Fakta Pembuktian Logika
Dalam membuktikan penalaran-penalaran yang diperoleh oleh manusia secara empirik maupun pengetahuan yang bisa ditangkap langsung oleh logika tanpa harus melihat pengalaman yang nyata, maka manusia melakukan usaha untuk membuktikan penalaran tersebut dalam sebuah tindakan. Kaitanya tentang tindakan manusia ada sebuah ilmu yang mempelajari khusus mengkaji itu yaitu praksiologi. Cakupan praksiologi itu sendiri adalah tindakan manusia itu sendiri, tanpa memandang keadaan lingkungan atau faktor-faktor kebetulan dan individual dari tindakan-tindakan yang konkret.
Terlepas dari cakupan yang dikaji oleh praksiologi, menurut saya tindakan manusia dipengaruhi oleh penjatuhan nilai manusia itu sendiri. Maksudnya bahwa ketika saya akan melakukan sesuatu, ibaratnya saya disebuah perempatan, saya pasti akan berfikir mau kemana harus berjalan,, mau lurus?kekanan?atau kekiri? Gampangnya misal saya setelah jam 7 bangun tidur maka saya berfikir apakah saya harus kuliah kekampus?tidur lagi?atau pergi ke suatu tempat? Ketika saya memutuskan untuk kuliah dikampus maka saya menganggap bahwa kuliah lebih bernilai daripada tidur ataupun pergi kesuatu tempat, begitu sebaliknya.
Terkait dengan tindakan manusia secara individu,dan melihat dari contoh diatas maka jelas terlihat bahwa tindakan manusia dalam penjatuhan nilainya adalah bersifat otonom dari pihak luar dirinya. Maksudnya bahwa dalam penjatuhan nilai yang dijadikan titik tolak tindakanya merupakan inisiatifnya sendiri, sedangkan input yang diberikan pihak luar adalah sebuah suplemen saja, yang sifatnya (ada atau tidak) tidak berpengaruh langsung atas tindakanya. Misalnya: merujuk dari contoh diatas ketika sehabis bangun tidur saya menganggap bahwa tidur lagi itu lebih penting daripada kuliah, namun oleh pacar saya disuruh kuliah kekampus, dan saya pergi kekampus. Kepergian saya kekampus bukan karena kuliah lebih bernilai, tetapi karena saya menganggap jika saya mengikuti kata-kata pacar saya lebih mempunyai nilai (keuntungan) daripada saya tidur. Contoh diatas menunjukan bahwa posisi pihak luar adalah pemberi opsi lain bukan penentu atas penjatuhan nilai, mungkin saja saya bersikukuh untuk tidur karena opsi yang ditimbulkan oleh pacar saya lebih kecil nilainya.
Catatan untuk sub-bab tindakan manusia : karena literatur yang saya baca mengenai tindakan manusia rata-rata adalah para filsuf ekonomi. Maka mungkin berbeda penerapan teknis tulisan ini dengan buku-buku yang saya baca. Misalnya dalam bukunya Ludwig Von Mises yang sudah diterjemahkan dengan judul “Persoalan-Persoalan Epistemologi Dalam Ilmu –Ilmu Pengetahuan Yang Mengkaji Tindakan Manusia” disitu disebutkan bahwa makhluk yang bertindak adalah makhluk yang tidak merasa puas dan oleh karenanya ia tidak maha kuasa.jika ia merasa puas, ia tidak akan bertindak....., sedangkan dalam tulisan ini tindakan manusia bukan karena kepuasan tetapi karena ada perbedaan nilai dalam setiap pilihan yang ditimbulkan oleh penalaran manusia secara sadar. Sekali lagi saya tidak mendebat apa yang diungkapkan oleh Mises namun saya berusaha untuk melihat dari sisi lain tentang tindakan manusia.
Etika Sebagai Orientasi Tindakan Manusia
Cakupan etika dalam tulisan ini adalah etika sebagai sarana orientasi (arah) dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan oleh setiap individu ataupun akumulasi dari tindakan-tindakan individu yang di klaim menjadi tindakan komunal. Namun sekali lagi sifatnya seperti bahasan sebelumnya yaitu hanya sebuah suplemen yang tidak berpengaruh secara langsung terhadap tindakan manusia dan cenderung sebagai indikator penilaian suatu tindakan manusia oleh manusia lain.
Dalam hal ini, etika atau biasanya lekat dengan kata moral merupakan sebagai norma-norma dasar manusia yang diyakini kebenaranya oleh individu maupun komunal (organisasi, masayarakat, negara dll). Dengan kita tahu etika dalam suatu masyarakat maka tindakan kita dipaksakan untuk digolongkan kedalam baik-buruk, benar-salah dan sejenisnya oleh masyarakat tersebut. Misalnya tindakan mencuri itu dianggap perbuatan buruk oleh masyarakat dan salah oleh negara. Begitu juga bahwa tindakan menyumbang kepada orang miskin itu adalah perbuatan yang baik. Namun perlu di ingat bahwa manusia juga punya kehendak bebas yang mana manusia mempunyai kemapuan untuk untuk menentukan dirinya sendiri. Dari benturan-benturan kehendak bebas dari masing-masing individu tersebutlah maka timbul etika ataupun moral. Contohnya kita bebas melakukan apapun tak terkecuali parkir ditengah jalan,tetapi itu juga akan mengganggu kebebasan orang lain yang mau lewat, oleh karena itu suatu organisasi, masyarakat maupun negara muncul yang namanya etika yang berupa norma-norma dasar yang dijadikan orientasi tindakan manusia.
Catatan: dalam sub-bab etika ini sengaja saya tidak membahas tentang etika atau moral yang ditimbulkan oleh agama karena terlalu sensitive untuk dibahas, namun secara umum dalam teori etika dasar, hal ini di sebut dengan determinisme religius.
Apabila kita membicarakan tentang tindakan manusia pastilah tidak ada habis-habisnya. Namun dalam tulisan ini saya mencoba merangkai bahwa tindakan manusia diawali dari aktifitas logika penalaran kemudian dinyatakan dengan tindakan dan diyakini dengan etika atau moral. Pernyataan yang saya lontarkan tersebut memang terlihat gegabah. Namun harapan saya dengan kondisi ini bisa tercipta ruang diskusi yang lebih baik. 
Rekomendasi refrensi:
Franz Magniz-Suseno.1987. Etika Dasar: masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta: Pustaka Filsafat.
Poedjawiyatna. 1990. Etika (filsafat tingkah laku). Jakarta: Rineka Cipta.
Ludwig Von Mises di terjemahkan oleh Sukayasah Syahdan. Persoalan-Persoalan Epistemologi Dalam Ilmu –Ilmu Pengetahuan Yang Mengkaji Tindakan Manusia.
R. G. Soekadijo.1994.. Logika Dasar (tradisonal, simbolik dan deduktif). Jakarta : Gramedia Pustaka utama.
http://www.akal kehendak.com, beberapa tulisan terkait dengan praksiologi