Jumat, 18 Juni 2010

Belenggu Intelektual di Lembaga Perguruan Tinggi Ikatan Dinas

Pagi itu dengan penuh harap saya mengantri diloket pendaftaran seleksi STAN (Sekolah Tinggi Akutansi Negara) tahukah anda saya mulai mengantri sejak matahari keluar sampe masuk lagi.ya.....betapa panjangnya antrean waktu itu hingga seperti seleksi indonesia Idol ataupun acara sejenisnya, beberapa minggu kemudian ikut TES di UNISULA dari usaha yang sangat panjang...ya dengan sangat kecewa saya tidakditerima. Dengan tidak diterimanya saya ada sesuatu yang mungkin didapatkan oleh temen-temen saya yang studi disana,yaitu sebuah KEBEBASAN INTELEKTUAL !!!
Drama Belenggu Intelektual ala Pemerintah
Mungkin tuduhan ini sangat berlebihan, namun ada alasan yang kuat yang ada dibenak saya, diakui atau tidak bahwa mereka yang lolos masuk sekolah ikatan dinas merupakan orang-orang yang punya kecerdasan yang tinggi mengingat jumlah peserta seleksi yang begitu banyaknya. Namun, sayang nya setelah memasuki studi di perguruan tinggi masing-masing mereka di dididk mental-mental pegawai negri bak seperti dicuci otaknya. mereka dicekoki oleh ketrampilan-ketrampilan pekerja tanpa diberi kesempatan untuk berproses mencari kebebasan nasib apalagi pemikiran yang bebas tanpa intervensi. Betapa tidak bahwa mereka harus menguasai program-program yang dikeluarkan pemerintah kemudian apabila dirasa tidak menguasai langsung dikeluarkan dari lembaga tersebut, sehingga mereka tidak sempat menikmati luasnya ilmu yang dinikmati oleh mahasiswa diperguruan tinggi umum lainya.
Mereka dibiasakan sebagai mental-mental pekerja bukan kompetitor sehingga dibenak mereka hanya bagaimana cara bekerja yang baik dan dapat uang sebanyak-banyaknya, ya...hasilnya seperti kita lihat ada sebagian mereka yang tersangkut kasus penyakit bangsa yaitu korupsi, walaupun tidak semuanya tetapi ada opini masyarakat yang mengatakan itu sekolahnya para koruptor. Terlepas dari itu semua yang lebih parah lagi adalah mereka dibelenggu intelektualnya dengan iming-iming sebagai pegawai negri. Saya tidak bisa membayangkan ketika input perguruan tinggi ikatan dinas yang super istimewa dan cerdas ini dikembangkan pemikiranya serta mereka diberi kebebasan untuk meng-eksplor diri seluas-luasnya maka akan keluar para ekonom-ekonom, politisi-politisi dan ilmuwan-ilmuwan luar biasa yang dapat merubah tatanan bangsa ini. ya..semoga saja mereka menelaah konsekuensi dari imbas sekolah ikatan dinas ini dan harapanya sekolah ikatan dinas yang dibiayai oleh negara yang tidak kecil ini dapat menciptakan insan-insan cendekiawan perubah bangsa.

2 komentar:

  1. Tidakkah kita besikap kurang dewasa atas pilihan kita yang ternyata kurang diminati mereka yang memilih di ikatan dinas?

    Tidakkah kita besikap kurang dewasa atas semua keyakinan kita yang mungkin dimiliki mereka yang telah bersikap realistis?

    Tidakkah kita besikap kurang dewasa atas atas kebebasan mereka disan yang tidak kita sadari bahwa mereka "bebas"?

    Hm...

    BalasHapus
  2. Visi memang patut ada, berbahagialah mereka yang sadar menentukan visi. Perguruan Tinggi Ikatan Dinas sama halnya basin yang limit kebebasan, menurut orang yang rindu kebebasan. Dan tak berbeda dengan Tembok besar Cina yang begitu protektif dari bahaya luar, menurut orang yang ingin membuang jauh tantangan.

    sip..sip..
    tak tunggu tulisan berikutnya..

    BalasHapus