Selasa, 14 Desember 2010

Catatan Tentang : Logika Tindakan, Logika Formal Dan Sistem Etika (#1)

Oleh Tahmid Fitrianto
Tulisan ini berawal dari kecurigaan saya tentang tingkah-tingkah unik yang timbul dari lingkungan sekitar saya. Tingkah laku yang menurut saya tidak lazim pada umumnya, beragam alasanya dari masalah prinsip ataupun idealisme yag selama ini mereka yakini. Mungkin anda juga pernah melihat hal yang sama dengan saya, dengan alasan yang berbeda pula tentunya. Lalu pertanyaanya apa sih sebenarnya dibalik motif yang mereka lakukan? Atau jangan-jangan malah kita yang dianggap aneh oleh lingkungan sekitar kita? Dalam tulisan ini saya berusaha memaksa menghubung-hubungkan masalah logika dasar, teori tindakan (praksiologi) dan teori etika dasar, dengan literatur seadanya yang saya peroleh dari perpus maupun buku warisan...mudah-mudahan bisa menemukan korelasi ketiga konsep tersebut yang sama-sama membahas tentang manusia. Memang, tulisan ini terlihat subyektif dengan ini harapanya masih ada celah untuk ruang diskusi karena saya tidak membatasi pendapat anda semua.
Logika Sebagai Motif Awal Tindakan Manusia
Sebelum membahas terlalu jauh, maksud dari logika dalam sub-bab tulisan ini adalah bahwa logika merupakan teknik atau cara manusia untuk meneliti ketepatan/kebenaran dari penalaranya (penalaran dirinya atau penalaran orang lain). Penalaran atau lebih enaknya disebut dengan buah pikiran, itu sendiri dipengaruhi oleh pengalaman empirik dan sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat (wajar). Dari penalaran tersebut kita dapat mengambil sebuah proposisi atau pernyataan yang diyakini kebenaran atau kesalahanya oleh individu maupun oleh manusia pada umumnya. Oleh karena itu, logika menurut saya merupakan pemicu awal dari apa yang akan kita lakuakan (pemicu tindakan manusia). Misalnya, karena saya yakin kalau cuaca mendung itu hari akan hujan maka saya memutuskan untuk tidak keluar rumah atau saya keluar rumah tapi bawa payung karena saya tidak ingin kehujanan. Dari contoh tersebut merupakan sebuah pengambilan keputusan tindakan yang didasari oleh penalaran manusia(atau dalam logika dasar bisa disebut penyimpulan /konklusi).
Dalam menyimpulkan penalaran-penalaran yang kita miliki dapat juga berpotensi terjadi penyimpangan atau dalam logika dasar disebut Kesesatan (fallacy), secara umum ada 2 sebab kesesatan, yang pertama adalah kesesatan karena bahasa maksudnya kesesatan yang ditimbulkan karena ketidaksamaan dalam mengartikan suatu kata/lebih luasnya bahasa. Yang kedua adalah kesesatan relevansi yaitu kesesatan karena kesalahan dalam penalaranya maupun dalam menyimpulkanya (konklusinya) atau gampangnya karena penalaran maupun konklusinya tidak relevan. Lalu apa dampaknya kesesatan bagi tindakan manusia? Tentu saja orang yang mengalami kesesatan adalah orang yang beda pengertian-nya dari orang umum sehingga tindakanya pun akan berbeda sekali dengan orang umum lainya. Misalnya saya yakin bahwa Andi meninggal akibat diserang oleh perampok karena ada bekas goresan ditanganya, padahal menurut dokter Andi meninggal bukan karena lukanya tetapi akibat serangan jantung yang dideritanya sewaktu dirampok. Dari contoh tersebut saya mengalami kesesatan yang berakibat tindakan saya yang langsung menghakimi perampok tersebut. Namun dalam hal kesesatan ini saya tidak berani meyakini untuk menyimpulkan seseorang mengalami kesesatan atau tidak karena dalam menyimpulkan harus tidak terbatas secara numerik maupun secara temporal. Maksudnya fakta tersebut harus bisa dibuktikan dalam waktu kapan saja dan berapapun jumlah percobaanya hasilnya harus sama baru itu disebut sahih atau tidak sesat.
Tindakan Manusia Sebagai Fakta Pembuktian Logika
Dalam membuktikan penalaran-penalaran yang diperoleh oleh manusia secara empirik maupun pengetahuan yang bisa ditangkap langsung oleh logika tanpa harus melihat pengalaman yang nyata, maka manusia melakukan usaha untuk membuktikan penalaran tersebut dalam sebuah tindakan. Kaitanya tentang tindakan manusia ada sebuah ilmu yang mempelajari khusus mengkaji itu yaitu praksiologi. Cakupan praksiologi itu sendiri adalah tindakan manusia itu sendiri, tanpa memandang keadaan lingkungan atau faktor-faktor kebetulan dan individual dari tindakan-tindakan yang konkret.
Terlepas dari cakupan yang dikaji oleh praksiologi, menurut saya tindakan manusia dipengaruhi oleh penjatuhan nilai manusia itu sendiri. Maksudnya bahwa ketika saya akan melakukan sesuatu, ibaratnya saya disebuah perempatan, saya pasti akan berfikir mau kemana harus berjalan,, mau lurus?kekanan?atau kekiri? Gampangnya misal saya setelah jam 7 bangun tidur maka saya berfikir apakah saya harus kuliah kekampus?tidur lagi?atau pergi ke suatu tempat? Ketika saya memutuskan untuk kuliah dikampus maka saya menganggap bahwa kuliah lebih bernilai daripada tidur ataupun pergi kesuatu tempat, begitu sebaliknya.
Terkait dengan tindakan manusia secara individu,dan melihat dari contoh diatas maka jelas terlihat bahwa tindakan manusia dalam penjatuhan nilainya adalah bersifat otonom dari pihak luar dirinya. Maksudnya bahwa dalam penjatuhan nilai yang dijadikan titik tolak tindakanya merupakan inisiatifnya sendiri, sedangkan input yang diberikan pihak luar adalah sebuah suplemen saja, yang sifatnya (ada atau tidak) tidak berpengaruh langsung atas tindakanya. Misalnya: merujuk dari contoh diatas ketika sehabis bangun tidur saya menganggap bahwa tidur lagi itu lebih penting daripada kuliah, namun oleh pacar saya disuruh kuliah kekampus, dan saya pergi kekampus. Kepergian saya kekampus bukan karena kuliah lebih bernilai, tetapi karena saya menganggap jika saya mengikuti kata-kata pacar saya lebih mempunyai nilai (keuntungan) daripada saya tidur. Contoh diatas menunjukan bahwa posisi pihak luar adalah pemberi opsi lain bukan penentu atas penjatuhan nilai, mungkin saja saya bersikukuh untuk tidur karena opsi yang ditimbulkan oleh pacar saya lebih kecil nilainya.
Catatan untuk sub-bab tindakan manusia : karena literatur yang saya baca mengenai tindakan manusia rata-rata adalah para filsuf ekonomi. Maka mungkin berbeda penerapan teknis tulisan ini dengan buku-buku yang saya baca. Misalnya dalam bukunya Ludwig Von Mises yang sudah diterjemahkan dengan judul “Persoalan-Persoalan Epistemologi Dalam Ilmu –Ilmu Pengetahuan Yang Mengkaji Tindakan Manusia” disitu disebutkan bahwa makhluk yang bertindak adalah makhluk yang tidak merasa puas dan oleh karenanya ia tidak maha kuasa.jika ia merasa puas, ia tidak akan bertindak....., sedangkan dalam tulisan ini tindakan manusia bukan karena kepuasan tetapi karena ada perbedaan nilai dalam setiap pilihan yang ditimbulkan oleh penalaran manusia secara sadar. Sekali lagi saya tidak mendebat apa yang diungkapkan oleh Mises namun saya berusaha untuk melihat dari sisi lain tentang tindakan manusia.
Etika Sebagai Orientasi Tindakan Manusia
Cakupan etika dalam tulisan ini adalah etika sebagai sarana orientasi (arah) dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan oleh setiap individu ataupun akumulasi dari tindakan-tindakan individu yang di klaim menjadi tindakan komunal. Namun sekali lagi sifatnya seperti bahasan sebelumnya yaitu hanya sebuah suplemen yang tidak berpengaruh secara langsung terhadap tindakan manusia dan cenderung sebagai indikator penilaian suatu tindakan manusia oleh manusia lain.
Dalam hal ini, etika atau biasanya lekat dengan kata moral merupakan sebagai norma-norma dasar manusia yang diyakini kebenaranya oleh individu maupun komunal (organisasi, masayarakat, negara dll). Dengan kita tahu etika dalam suatu masyarakat maka tindakan kita dipaksakan untuk digolongkan kedalam baik-buruk, benar-salah dan sejenisnya oleh masyarakat tersebut. Misalnya tindakan mencuri itu dianggap perbuatan buruk oleh masyarakat dan salah oleh negara. Begitu juga bahwa tindakan menyumbang kepada orang miskin itu adalah perbuatan yang baik. Namun perlu di ingat bahwa manusia juga punya kehendak bebas yang mana manusia mempunyai kemapuan untuk untuk menentukan dirinya sendiri. Dari benturan-benturan kehendak bebas dari masing-masing individu tersebutlah maka timbul etika ataupun moral. Contohnya kita bebas melakukan apapun tak terkecuali parkir ditengah jalan,tetapi itu juga akan mengganggu kebebasan orang lain yang mau lewat, oleh karena itu suatu organisasi, masyarakat maupun negara muncul yang namanya etika yang berupa norma-norma dasar yang dijadikan orientasi tindakan manusia.
Catatan: dalam sub-bab etika ini sengaja saya tidak membahas tentang etika atau moral yang ditimbulkan oleh agama karena terlalu sensitive untuk dibahas, namun secara umum dalam teori etika dasar, hal ini di sebut dengan determinisme religius.
Apabila kita membicarakan tentang tindakan manusia pastilah tidak ada habis-habisnya. Namun dalam tulisan ini saya mencoba merangkai bahwa tindakan manusia diawali dari aktifitas logika penalaran kemudian dinyatakan dengan tindakan dan diyakini dengan etika atau moral. Pernyataan yang saya lontarkan tersebut memang terlihat gegabah. Namun harapan saya dengan kondisi ini bisa tercipta ruang diskusi yang lebih baik. 
Rekomendasi refrensi:
Franz Magniz-Suseno.1987. Etika Dasar: masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta: Pustaka Filsafat.
Poedjawiyatna. 1990. Etika (filsafat tingkah laku). Jakarta: Rineka Cipta.
Ludwig Von Mises di terjemahkan oleh Sukayasah Syahdan. Persoalan-Persoalan Epistemologi Dalam Ilmu –Ilmu Pengetahuan Yang Mengkaji Tindakan Manusia.
R. G. Soekadijo.1994.. Logika Dasar (tradisonal, simbolik dan deduktif). Jakarta : Gramedia Pustaka utama.
http://www.akal kehendak.com, beberapa tulisan terkait dengan praksiologi

Kamis, 11 November 2010

Pendidikan dan Riset Geografi Vs Krisis Lingkungan Global

Permasalahan pembangunan yang tidak ramah lingkungan dengan sadar ataupun tidak sudah kita rasakan dampaknya saat ini. Diantarnya adalah pemanasan global (global warming), serta dalam scope lokal seperti banjir bandang di Wasior, permasalahan ini merupakan akumulasi dari dampak pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Kondisi ini diperparah dengan kurang sadarnya masyarakat tentang menjaga lingkungan. Permasalahan bangsa, bahkan dunia ini merupakan persoalan yang tak kunjung ada upaya penyelesaianya.
Sejauh ini bangsa-bangsa didunia hanya mengupayakan pada tataran konseptual dengan berbagai perundinganya seperti konfrensi perubahan iklim di Bali dan konfrensi-konfrensi yang lain terkait dengan isu lingkungan global. Namun, pada tataran pelaksanaan mereka malahan saling menuding siapa yang harus bertanggung jawab dengan kerusakan lingkungan ini. Kemudian, sebagai kambing hitamnya adalah negara berkembang termasuk Indonesia dituduh sebagai biang keladi terjadinya krisis lingkungan global.
Terlepas dari kondisi politik dunia, paper ini akan membahas terkait dengan peran riset geografi termasuk peran pendidikan geografi sebagai transfer keilmuan dengan upaya pencegahan krisis lingkungan lokal maupun global.
Pendidikan Geografi sebagai Agen Pencetak Manusia Sadar Lingkungan
Krisis lingkungan yang kini terjadi merupakan tanggung jawab bersama, tak terkecuali dunia pendidikan. Sebagai agen yang strategis dalam transfer keilmuan, pendidikan dianggap punya kontribusi dalam membentuk kesadaran lingkungan. Dalam konteks pendidikan geografi memungkinkan adanya transfer gagasan yang mengarah pada lingkungan hidup, seperti yang ada di Indonesia kurikulum geografi yang diajarkan disekolah salah satunya bertujuan untuk membentuk perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumberdaya alam secara arif. (Dede Sugandi dan Mamat Ruhimat:2010).
Kesadaran lingkungan terhadap peserta didik akan terbentuk sejalan dengan adanya interaksi antara individu dengan lingkungan hidup serta adanya pengetahuan dan persepsi baru mengenai lingkungan hidup. Dengan melihat proses transformasi yang dilakukan oleh dunia pendidikan hal ini dapat dijadikan pembangunan yang berkelanjutan di bidang lingkungan. Ini dapat terjadi karena pada proses belajar akan terjadi apabila adanya proses pengolahan yang aktif dari pihak belajar. Pengolahan data yang aktif itu merupakan aktivitas lanjutan dari kegiatan mencari informasi dan dilanjutkan dengan penemuan-penemuan baru (Sri Hayati:2010).
Dengan adanya pembangunan yang berkelanjutan dibidang lingkungan hidup pada dunia pendidikan. Hal ini jelas bahwa pendidikan geografi adalah salah satu komponen penting dalam mencetak generasi yang sadar lingkungan sebagai upaya mencegah krisis lingkungan global yang melanda dunia. Selain itu, pendidikan geografi dianggap sangat efektif dalam upaya transformasi kesadaran lingkungan sejak dini karena semua negara di dunia dalam struktur kurikulumnya mengajarkan geografi.
Kontribusi Riset Geografi Dalam Mengurai Krisis Lingkungan
Kebutuhan manusia terhadap lingkungan yang tidak terbatas menjadikan kompleksitas masalah lingkungan yang dihadapi. Riset geografi saat sekarang ini diharapkan dapat membantu mengurai dan menjelaskan masalah-masalah yang kompleks dalam pembangunan khususnya pembangunan yang ramah lingkungan.

Pendekatan geografi yang meliputi 4 aspek yaitu keruangan (spatial), kelingkungan (ekologi), kewilayahan (regional), serta waktu (temporal) (Hartono:2010). Selain itu didukung oleh sistem informasi geografi (SIG) dalam proses riset geografi, maka secara langsung maupun tidak langsung arah riset geografi dapat memberi kontribusi dalam menganalisis permasalahan lingkungan serta dapat memberikan solusi yang solutif terhadap permasalahan tersebut.
Riset geografi dalam sektor pembangunan yang ramah lingkungan, maupun pembangunan lingkungan hidup khususnya di Indonesia antara lain sebagai berikut:
1. Peran geografi dalam pengelolaan lingkungan yaitu pemetaan distribusi kegiatan-kegiatan ekonomi menurut resiko pencemaranya, pemantauan tingkat pencemaran air secara teristik, identifikasi kegiatan ekonomi tertentu yang menyebabkan pencemaran, hingga pembuktian subtantif kejadian pelanggaran lingkungan.
2. Penelitian geografi di bidang sumberdaya lahan yaitu dengan pemetaan secara reguler dalam rangka pemantauan, monitoring perubahan untuk mengenali adanya pelanggaran dalam penggunaan lahan, ploting perijinan perubahan lahan untuk memantau kesesuaian antara rencana dan implementasi perubaha guna lahan. (R. Rijanta: 2010)
Dan masih banyak lagi sektor-sektor penerapan geografi terkait dengan upaya pembangunan berwawasan lingkungan yang berkorelasi langsung terhadap krisis lingkungan. Dengan berbagai macam riset geografi mengenai lingkungan maka ilmu geografi merupakan tonggak penting dalam upaya pencegahan krisis lingkungan global yang saat ini melanda.

Kesimpulan
Pendidikan geografi sebagai transformasi keilmuan dalam mencetak generasi yang sadar lingkungan serta riset geografi yang mengarahkan kepada pembangunan yang berwawasan lingkungan. Keduanya merupakan merupakan tonggak penting dalam upaya mengatasi krisis lingkungan global yang semakin terpuruk.

Jumat, 01 Oktober 2010

Nasionalisme gue terlalu mahal

Oleh: Tahmid Fitrianto
Setiap zaman itu ada roh zamanya, penggalan kalimat itu yang biasa diucapkan oleh kawan saya mahasiswa sejarah. Namun, roh nasionalisme tampaknya masih saja sama dari dulu hingga sekarang. Nasionalisme hanya untuk orang-orang yang berduit,orang yang punya kedudukan, itu juga kata sejarah. Mengapa tidak? Orang-orang yang tercatat dalam sejarah adalah orang-orang yang menyumbangkan seluruh harta, tenaga maupun pikiran. Coba kita ingat adakah sosok pejuang miskin kita yang tercatat dalam sejarah, ya..paling mereka hanya tercatat sebagai “para pahlawan yang telah mendahului kita” itu pun disebut saat upacara.
Lain dulu lain sekarang, namun karena rohnya masih sama sekarang-pun nasionalisme terlalu mahal dinegara kita. Ada fakta unik dibalik mahalnya sebuah nasionalisme dinegara kita. Sekarang, untuk menjadi pejuang negara yang dengan bangga kita sebut TNI (Tentara Nasional Indonesia), setidaknya harus merogoh kocek yang terlalu dalam bahkan itu sudah menjadi rahasia umum. Lalu pertanyaanya, bisakah orang miskin ikut pesta dalam bingkai nasionalisme. Oleh karenanya tidak heran apabila sebagian dari saudara kita yang lebih senang mengabdikan diri menjadi tentara negara tetangga, karena disana harga nasionalisme terlalu rendah malahan disana mereka dibayar bukan sebaliknya yang terjadi dinegara kita.
Rasa-rasanya mahalnya sebuah nasionalisme ini juga dirasakan oleh saudara kita yang ada diperbatasan. Info ini saya peroleh dari kawan saya dari Riau waktu ikut fisip nationl camp dijakarta, mereka bercerita dengan saya untuk membeli sembako produk dalam negri ternyata lebih mahal dari harga sembako negara tetangga yaitu Malasyia. Karenanya untuk makan sehari-hari sebagian dari mereka lebih suka belanja di negara tetangga, itu wajar karena memang harga nasionalisme kita terlalu mahal.
Kedua fakta unik itu adalah sebagian kecil dari banyaknya dampak dari mahalnya sebuah nasionalisme dinegara ini. Yang terlihat jelas dimata kita bahwa ada sebuah hukum timbal balik yang terjadi dalam mempertahankan nasionalisme, karena untuk mendapatkan jiwa nasionalisme mereka harus bayar, maka untuk memperpanjang jiwa nasionalisme mereka juga harus dibayar. Ya...itu rasa-rasanya sudah menjadi hukum yang tidak bisa ditinggalkan dinegara ini, oleh karenanya sebagian dari mereka banyak yang kejar setoran dan hasilnya digertak oleh negara tetangga saja kita tidak berani angkat senjata. Itu wajar karena mereka masih sibuk kejar setoran, yang pastinya tidak mau sibuk-sibuk mati konyol sebelum setorannya cukup.
Memang, nasionalisme itu banyak cara namun kalau kebanyakan cara yang harus ditempuh ujung-ujunnya harus merogoh kocek sendiri,bingung juga mau mati-matian demi negara. Bayangkan saja untuk menjadi TNI atau Polisi kita harus bayar oknum,padahal dinegara tetangga pejuang-pejuang itu malahan tidak ada yang minat. Itulah indonesia dari dulu memang semangat nasionalismenya sangat tinggi, sampai-sampai dinegri sendiri tidak terakumulasi lalu jadi tentara negara tetangga yang tidak harus modal mahal, ya..paling-paling modal badan sehat.
Sebagai penutup tulisan ini, saya sekali lagi ingin menegaskan bahwa nasionalisme yang berlebih memang tidak sehat, ditengah zaman sudah merdeka. Gerakan nasionalisme sekarang adalah bukan hanya scope lokal, ataupun nasional namun gerakan cinta sesama secara global karena kemerdekaan dalam segala hal adalah hak semua manusia tak terbatas satu keturunan, ras ataupun bangsa.

Senin, 20 September 2010

Ijazah-“ku” Diskriminatif

Pagi itu si Tono dengan semangat membawa selembar kertas yang terbungkus rapi di stopmap dengan segala pirantinya, ia berharap dengan lembaran yang biasa orang menyebutnya ”ijazah” dapat memberikan dia pekerjaan. Kemudian sore itu dia pulang dengan wajah tertunduk penuh kecewa karena ijazah-nya tidak bisa berbuat apa-apa, padahal selembar kertas itu dia dapatkan dari jerih payah kuliah selama bertahun-tahun.
Cerita diatas merupakan sebuah potret nyata dampak dari selembar kertas yang disebut ijazah. sebagian besar dari kita terjebak pada simbol-simbol yang anehnya dikeluarkan dari mimbar akademik. Ijazah dianggap sebagai manuskrip sakral yang bisa memberikan ia pekerjaan dan apabila benda itu rusak sedikit saja bisa dianggap murtad (tidak diakui secara akademis), sehingga mereka menjaganya dengan sepenuh hati. Memang aneh tapi nyata, namun ini potret sistem yang dianggap benar oleh negara ini.
Gara-gara satu lembar yang bernama ijazah maka ada banyak profesi, semisal guru dengan ijazah S.Pd nya, Insinyur, dokter dan banyak profesi aneh-aneh yang dibuktikan dengan selembar kertas itu. Yang anehnya lagi, mereka mengklaim bukan dengan skill yang mereka miliki tapi dengan selembar kertas ijazah. Sadar atau tidak bahwa ijazah banyak menimbulkan masalah, berikut beberapa temuan aneh yang disebabkan oleh ijazah:
1. Dari prosesnya saja sudah menimbulkan diskriminasi, betapa tidak ketika masyarakat dunia menyuarakan education for all namun kenyataanya akses pendidikan negara ini milik orang kaya. Sehingga ada istilah pelajar, putus sekolah,orang terbelakang, dan banyak istilah yang disematkan kepada mereka yang tidak sekolah, yang tentunya tidak pula punya ijazah. Sehingga kasus diskriminasi nampak disini, akibat ulah simbol akademik. Bayangkan saja apabila sekolah hanya untuk akses mendapatkan skill, pasti orang nongkrong dibengkel saja bisa jadi insinyur mesin dan pengamen bisa jadi sarjana seni.
2. Banyaknya orang yang ingin gelar namun dengan ijazah, maka banyak kasus juga ijazah abal-abal atau bahkan yang ekstrim lagi gara-gara pengen ijazah doktor harus bersusah payah plagiat disertasi. Yang lebih kasihan lagi gara-gara pengen punya ijazah sarjana mereka harus merelakan hijrah kekota besar dari rumahnya yang terpencil diatas sana, hingga menghabiskan aset yang dimilki keluarganya.
3. Ijazah menentukan nasib seseorang, hal ini nampak nyata-nyata di institusi pemerintahan kita. Walaupun ada orang punya skill bagus namun tidak punya ijazah maka tidak sedikitpun mereka berhak untuk bekerja di institusi pemerintah. Padahal tidak sedikit mereka yang punya kemampuan yang baik, namun tidak punya lembaran kertas itu dan tidak sedikit pula yang punya ijazah tapi tidak punya kemampuan yang diterangkan dalam ijazah. Dengan alih-alih untuk pengakuan, terlalu picik apabila kita lebih percaya yang punya ijazah.
Sebenarnya banyak hal-hal konyol disekitar kita gara-gara ulah selembar kertas yang dianggap sakral. Kritik ini sebenarnya sudah dilakukan di India dengan merilis film “3 idiots” yang menghadirkan sosok Rancho yang ingin mengubah sistem pendidikan,ketika melihat film itu rasa-rasanya problem itu sama seperti dinegara kita.
Kalau tidak ada ijazah, lalu bagaimana kita harus mengakui orang tersebut mampu dalam bidangnya? Sebenarnya masalah ini sudah diterapkan dinegara ini seperti sistem pendidikan pesantren (yang saya contohkan sistemnya bukan content ajaranya). Pesantren setidaknya mengajarkan sistem pendidikan yang fair, misalnya ketika santri itu menyelesaikan pendidikanya mereka tidak diberi ijazah yang menunjukan bahwa santri tersebut sudah sampai kitab apa, dan jenjang apa. Masyarakat hanya menilai bahwa santri tersebut diakui sebagai pedakwah kalau dia punya kemampuan da’wah, begitu juga santri diakui jadi pengajar atau guru spiritual apabila dia mampu mengajarkan ilmunya, disini jelas pengakuan masyarakat hanya dari skill jadi orang luar yang bukan lulusan pondok juga punya akses menjadi pedakwah atau guru spiritual tanpa harus menunjukan ijazah lulusan pondok. Kalau pendidikan pondok pesantren saja bisa se-fair itu, mengapa tidak sistem pendidikan negara ini juga bisa fair seperti institusi tersebut?hm....hanya kita yang tau....

Senin, 30 Agustus 2010

Berdebat dengan Geografi


Oleh: Tahmid Fitrianto1
Rather than police the margins of the discipline, let’s stretch them. Geography is an open, vibrant and exciting place to be. (Adam Tickell; RGS Newsletter, December 2002)2
Sebenarnya tulisan ini adalah keresahan yang selama ini saya alami, ada guncangan-guncangan pertanyaan yang sampai sekarang ini belum terjawab oleh keadaan. Mengapa dalam geografi tidak se-seksi Hkn yang selalu membincangkan negara, atau SosAnt yang selalu merisaukan kondisi masyarakat, atau bahkan ekonomi yang selalu memperdebatkan sistem ekonomi yang ideal. Sebenarnya yang saya permasalahkan bukan masalah apa yang dibicarakan tapi adakah tokoh geografi kita yang mau men-dinamiskan ilmu ini.
Padahal seperti dikatakan kutipan diatas bahwa geografi itu, is an open (terbuka), vibrant (bergetar), and exciting place to be (sesuatu yang menggairahkan). Nampaknya lingkungan geograf di Indonesia atau scope yang paling kecil lingkungan akademik kita tidak terlihat dinamis membicarakan geografi. Dunia barat sudah dinamis membicarakan masalah geografi, ada beberapa buku yang saya temui seperti Questioning Geography: Fundamental Debates, karya Noel Castree dkk, memasalahkan bagaimana mendebatkan geografi secara umum, atau buku yang berjudul A critical introduction to cartography and GIS, karya Jeremy W. Crampton, yang memberikan sebuah pengantar geografi yang kritis, hingga mengkritik kartografi yang berkembang sekarang. Yang lebih mengagetkan lagi, ternyata ada buku geografi keuangan, Financial geography (A banker’s views) karya Risto Laulajainen.
Kompleksnya objek kajian geografi merupakan sebuah hasil proses diskusi panjang oleh tokoh-tokoh geograf kita. Jadi tidak ada alasan sebenarnya untuk tidak men-dinamiskan geografi pada saat sekarang ini. Ada banyak celah sebenarnya untuk mendiskusikan masalah sosial maupun fisik dalam konteks geografi,contoh yang jelas ketika ada gempa bumi, kita seolah-olah meng-amini apa yang dinyatakan oleh BMKG, tanpa ada kecurigaan dalam konteks ilmiah kemudian ada perdebatan yang dinamis, atau bahkan yang parah lagi dari kakek saya kuliah geografi hingga saya kuliah sekarang refrensinya masih sama saja, kalau tidak Katili, I made Sandi..ya paling mentok Bintarto, lalu bagaimana kita bisa bergairah untuk mendiskusikan geografi. Padahal ketika cara pembelajaran dilingkungan akademik dilakukan dengan metode kontroversi, mungkin kita akan bergairah untuk mendiskusikan geografi.
Para geograf kita seolah-olah “nrimo ing pandom” dengan karya yang telah diciptakan para pendahulunya tanpa ada rasa cemas sebenarnya apa yang mereka bicarakan itu benar atau tidak. Kadang saya membayangkan ketika dalam studi ini banyak pemikiran kritis yang kami konsumsi maka kami akan selalu bergairah untuk membicarakan segala permasalahan dalam konteks geografi, namun sayangnya kebutuhan konsumsi kami saja tidak terpenuhi apa lagi akan membicarakan yang tidak-tidak tentang geografi malah kita dikira nge-gosip.J Parahnya lagi kita bisa meng-akses ilmu-ilmu geografi hanya dilingkungan akademik saja, seolah tidak ada ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari geografi. Munculnya tokoh-tokoh geografi baru tentunya tidak dilahirkan begitu saja, lalu kemudian apabila keadaan yang tenang-tenang seperti ini apakah mungkin ada tokoh geografi baru yang lahir. Atau bahkan apakah kita bisa membicarakan geografi se-seksi yang ada dibarat. Hm....??? J

Refrensi:
1 Tulisan untuk diskusi mingguan BPMG
2 Questioning Geography: Fundamental Debates, karya Noel Castree dkk.
A critical introduction to cartography and GIS, karya Jeremy W. Crampton.

Jumat, 18 Juni 2010

Belenggu Intelektual di Lembaga Perguruan Tinggi Ikatan Dinas

Pagi itu dengan penuh harap saya mengantri diloket pendaftaran seleksi STAN (Sekolah Tinggi Akutansi Negara) tahukah anda saya mulai mengantri sejak matahari keluar sampe masuk lagi.ya.....betapa panjangnya antrean waktu itu hingga seperti seleksi indonesia Idol ataupun acara sejenisnya, beberapa minggu kemudian ikut TES di UNISULA dari usaha yang sangat panjang...ya dengan sangat kecewa saya tidakditerima. Dengan tidak diterimanya saya ada sesuatu yang mungkin didapatkan oleh temen-temen saya yang studi disana,yaitu sebuah KEBEBASAN INTELEKTUAL !!!
Drama Belenggu Intelektual ala Pemerintah
Mungkin tuduhan ini sangat berlebihan, namun ada alasan yang kuat yang ada dibenak saya, diakui atau tidak bahwa mereka yang lolos masuk sekolah ikatan dinas merupakan orang-orang yang punya kecerdasan yang tinggi mengingat jumlah peserta seleksi yang begitu banyaknya. Namun, sayang nya setelah memasuki studi di perguruan tinggi masing-masing mereka di dididk mental-mental pegawai negri bak seperti dicuci otaknya. mereka dicekoki oleh ketrampilan-ketrampilan pekerja tanpa diberi kesempatan untuk berproses mencari kebebasan nasib apalagi pemikiran yang bebas tanpa intervensi. Betapa tidak bahwa mereka harus menguasai program-program yang dikeluarkan pemerintah kemudian apabila dirasa tidak menguasai langsung dikeluarkan dari lembaga tersebut, sehingga mereka tidak sempat menikmati luasnya ilmu yang dinikmati oleh mahasiswa diperguruan tinggi umum lainya.
Mereka dibiasakan sebagai mental-mental pekerja bukan kompetitor sehingga dibenak mereka hanya bagaimana cara bekerja yang baik dan dapat uang sebanyak-banyaknya, ya...hasilnya seperti kita lihat ada sebagian mereka yang tersangkut kasus penyakit bangsa yaitu korupsi, walaupun tidak semuanya tetapi ada opini masyarakat yang mengatakan itu sekolahnya para koruptor. Terlepas dari itu semua yang lebih parah lagi adalah mereka dibelenggu intelektualnya dengan iming-iming sebagai pegawai negri. Saya tidak bisa membayangkan ketika input perguruan tinggi ikatan dinas yang super istimewa dan cerdas ini dikembangkan pemikiranya serta mereka diberi kebebasan untuk meng-eksplor diri seluas-luasnya maka akan keluar para ekonom-ekonom, politisi-politisi dan ilmuwan-ilmuwan luar biasa yang dapat merubah tatanan bangsa ini. ya..semoga saja mereka menelaah konsekuensi dari imbas sekolah ikatan dinas ini dan harapanya sekolah ikatan dinas yang dibiayai oleh negara yang tidak kecil ini dapat menciptakan insan-insan cendekiawan perubah bangsa.

Selasa, 08 Juni 2010

Jangan Panggil Aku "Orang Cina"

 Indonesia merupakan sebuah negara yang mempunyai keragaman budaya, agama, ras maupun bahasa. Untuk menyatukan berbagai pandangan itu bangsa ini mempunyai sebuah slogan “Bhineka Tunggal Ika”yang selalu didengungdengungkan oleh semua warga negara Indonesia.Namun, disisi lain ada fakta dimasyarakat yang kontras dengan pernyataan tersebut. Fakta ini terjadi ketika saya sekolah di bangku SMA ada teman saya yang disebut “wong cina” ketika saya tanya “apakah kamu suka dipanggil dengan sebutan orang cina?” dia bilang sama sekali tidak suka karena dia dilahirkan di Indonesia, dia merasa bahwa dia orang Indonesia. Sadar atau tidak bahwa kasus ini terjadi dimana-mana padahal mereka lahir dan hidup dalam satu bumi Indonesia. Padahal kasus diatas berpotensi munculnya disintegrasi bangsa. Sebelum kita membicarakan lebih lanjut, hal penting yang harus diketahui adalah siapakah warga negara Indonesia itu menurut undang-undang? Dalam pasal 26 UUD 1945 ayat 1 dinyatakan sebagai berikut: “yang menjadi warga negara adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara”3. Walaupun Pengertian “asli” tidak dijelaskan lebih lanjut seperti pengertian “bangsa-bangsa lain”. Selain Undang-Undang diatas ketentuan mengenai siapa warga negara diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang nomor 62 tahun 1958. Dari undangundang diatas jelas bahwa warga keturunan cina pun warga negara Indonesia, yang tidak selayaknya kita panggil dengan sebutan orang cina.
Permasalahan perilaku sosial yang diakibatkan adanya diskriminasi terhadap mereka yang berlatar belakang ras, agama, atau sosial ekonomi yang berbeda4. Dapat membentuk pola-pola perilaku sosial yang melahirkan kelompokkelompok dalam sekala kecil maupun besar, misalnya kampung cina, komunitas
keturunan Tiongho dan sebagainya. Mereka berfikir bahwa mereka sudah mempunyai cap dengan sebutan orang cina maka mereka akan lebih percaya diri bergaul dengan komunitas mereka. Uniknya bahwa cap atau sebutan ini hanya diberikan kepada keturunan cina saja, keturunan warga negara lain tidak ada sebutan khusus seperti yang disematkan khusus untuk keturunan cina saja. Padahal hal ini sangat berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa yang sulit untuk dihilangkan.  Disintegrasi yang berlatarbelakang ras ini sangat rawan sekali, belum hilang dalam ingatan kita tragedi kerusuhan sepanjang tahun 1998 kasus yang
berbau rasial melanda di Ibukota negara kita yaitu Jakarta dan kota-kota lainya. Berapa orang keturunan cina yang menjadi korban penjarahan barang, kekerasan, pembakaran aset-aset hingga pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Pada saat yang hampir bersamaan di sekitar tempat tinggal saya yaitu Pekalongan juga mengalami hal yang sama. Dengan dalih rasial dan agama dengan membabibuta mereka membakar aset-aset milik orang cina dan melakukan kekerasan terhadap mereka. Dilain kasus ada fakta yang membuat kita bangga dengan prestasi mereka, misalnya atlet-atlet bulutangkis yang membawa harum bangsa kita seperti Susi Susanti, Liem Swie King, dan masih banyak lagi yang dengan tulus mengabdikan diri untuk bangsa ini.
Kondisi ini diperparah lagi dengan kecenderungan dari sistem pendidikan nasional yang selama ini menunjukan beberapa fenomena yang tidak menguntungkan bagi pembentukan proses kultural tersebut antara lain:
  1. Pendidikan nasional yang masih bersifat monolitik kultural, artinya pendidikan nasional menempatkan budaya induk sebagai acuan atau standart superioritas sehingga sangat merugikan bagi pembentukan integrasi nasional. Oleh karena itu yang terjadi dilapangan bahwa mereka yang menjadi budaya induk misalnya budaya jawa akan melontarkan sebutan-sebutan atau cap budaya minoritas seperti keturunan cina dengan sebutan “wong cina”.
  2. Persekolahan di Indonesia cenderung bersifat elitis untuk mempertahankan “status quo” dalam struktur sosial yang mapan. Contoh nyata dilapangan adalah anak-anak keturunan cina akan mengelompok dalam model sekolahnya sendiri, demikian pula anak-anak pribumi berkumpul disekolah negeri, mereka menggunakan simbol etnis, agama dan statussosial.
Contoh diatas merupakan bentuk-bentuk pengkotak-kotak kan yang secara tidak sadar kita seolah-olah meng amini apa yang telah dilakukan oleh kesalahan sistem, sehingga tidak memberi peluang adanya interaksi yang sehat dan wajar (alamiah).

Pendidikan Multi Kutural sebagai Solusi Disintegrasi
Keragaman entitas budaya dalam suatu komunitas merupakan modal pemberdayaan terutama dalam proses pendidikan. Sekolah belum dilihat sebagai institusi budaya dan sebagai ajang ber interaksi antar anggota masyarakat. Berbicara tentang pendidikan multikultural tidak ada salahnya kita belajar dari negara tetangga yaitu Malasyia misalnya, negara tersebut menunjukan bahwa kebijakan dasar untuk bidang pendidikan mengarah pada persatuan nasional (national unity). Kebijakan yang nyata adalah dengan mendirikan banyak sekolah multikultural untuk mengatasi perbedaan suku, agama dan ideologi. Dengan membangun landasan kebangsaan melalui sekolah multikultural, Malasyia berhasil menyikapi dengan tepat masalah-masalah besar yang cukup mendasar khususnya dibidang sosial dan budaya. Masalah yang penting dalam melaksanakan pendidikan multikultural adalah bagaimana didalam sekolah itu tumbuh secara alamiah perasaan emosional
yang menyatu antara warga masyarakat dari berbagai strata sosial maupun etnis tertentu.
Dalam perkembangan sejarah pendidikan di Indonesia model pendidikan multikultural ini pernah dilakukan pada masa pemerintahan Soekarno yakni sebelum tahun 1965, pada saat itu banyak didirikan sekolah swasta yang berorientasi pada multikultural. Lain dengan Malasyia kebijakan pendidikan pendidikan dasarnya memang didesain mengarah apa yang dinamakan Malasyia atau persatuan nasional yang implementasinya diwujudkan pada setiap jenjang dan jenis pendidikan sudah mengajarkan bahwa negara Malasyia adalah untuk warga Malasyia, sehingga di negara tersebut tidak mengenal kamu orang China
dan saya orang melayu.
Dengan belajar dari negara-negara yang telah sukses melaksanakan pendidikan multikulturalnya, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintahkita antara lain:
  1. Pengajaran yang diberikan kepada mereka yang berbeda secara kultural dengan titik berat agar dikalangan mereka terjadi perubahan kultural,
  2. Memperhatikan pentingnya hubungan manusia, dengan mengarahkan atau mendorong siswa memiliki perasaan positif, mengembangkan konsep diri, mengembangkan toleransi dan mau menerima orang lain,
  3. Menciptakan arena belajar dalam satu kelompok budaya,
  4. Pendidikan multikultural dilakukan sebagai upaya mendorong persamaan struktural sosial dan pluralisme kultural,
  5. Pendidikan multikultural sekaligus sebagai upaya rekontruksi sosial agar terjadi agar terjadi persamaan struktur sosial dan pluralisme kultural dengan tujuan menyiapkan agar setiap warga negara aktif mengusahakan persamaan struktur sosial.
Dengan membangun landasan kebangsaan melalui sekolah multikultural, kita berharap tidak ada lagi sebutan “itu orang cina” atau sebutan lain yang bebau rasial. Mereka pantas kita panggil dengan sebutan” saudara sebangsa dan setanah air”, kalau seperti ini adanya indah bukan?. 
Refrensi :
Ace Suryadi dan H.A.R. Tilar, 1993. Analisis Kebijakan Pendidikan.
(Bandung: Remaja Rosdakarya) Agus Salim, 2003. Pendidikan Multikutural (Semarang: UNNES press)
Heru Mugiarso, Bimbingan Konseling. Halaman 98 (semarang: UNNES
Press)

Rabu, 14 April 2010

Analogi pemerintahan: Negara.....perlukah?

Pengantar
Tulisan ini merupakan kegelisahan saya mengenai kredibilitas negara dealam mensejahterakan rakyatnya. walaupun sangat picik sekali rasanya ketika mempertanyakan kredibilitas negara dalam hal mensejahterakan rakyatnya, namun ada sedikit kegelisahan dari anak bangsa "kata seorang penggemar nasionalisme" yang akan saya tulis dalam blog ini..
Analogi Pemerintah
Kalau saya analogi-kan negara merupakan sebuah motor, Mesin merupakan sistem pemerintahanya (demokrasi, liberal, sosialis,dll), kemudian rakyat disini sebagai bensin nya,setelah mesin di hidupkan dengan bensin maka apa yang terjadi lampu menyala dengan terang, motor melaju dengan kencang, namun si bensin berlalu melalui knalpot berupa limbah yang kotor dan tidak menyehatkan..ya itulah rakyat...
Lalu siapa elite-elite yang menjalankan negara atas nama rakyat?dia lebih mahal dari rakyat (bensin), para elite itu kita analogikan pelumas, sebenarnya bahan utamanya seperti rakyat namun nasibnya dia lebih tinggi sedikit daripada rakyat biasa, sebenarnya ada pelumas tidak ada bensin motor tidak bisa jalan, namun pada kenyataanya pelumas selalu mengklaim bahwa motor lari kencang akibat pelumasnya yang bersih dan profesional, padahal pelumas (pemerintah) menghalalkan segala cara untuk mesinya bisa jalan semaksimal mungkin tanpa melihat kapasitas bensin nya (rakyat nya ) akibatnya eksploitasi alam sebesar-besarnya atas nama rakyat tanpa mempedulikan dampaknya...
mengapa saya analogikan begitu kacau nya sebuah negara, ada beberapa penemuan konkret yang saya pikir mendukung analogi yang saya ungkapkan tadi..sistem pemerintahan apapun sebenarnya merugikan kita dan alam, mengapa tidak..?di negara antah berantah dengan sok bijaknya keluar kebijakan publik (seolah-olah untuk publik) "seluruh bumi,air dan udara adalah milik negara, kemudian sektor-sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat" lalu apa yang terjadi? eksploitasi atas nama negara merajalela, kerusakan alam atas nama negara merajalela namun dengan enaknya negara mengatakan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,padahal jelas aturan yang dibuat itu berpotensi merusak bumi, air dan udara yang kita miliki, sungguh kontras sekali yang memperjuangkan untuk rehabilitasi adalah pihak-pikak non pemerintahan (LSM, NGO), lalu untungnya kita punya negara apa ya...??? itu yang mungkin harus kita renungkan lagi sebagai rakyat yang nantinya akan keluar dari knalpot akibat mesin (negara)..tidak hanya itu saja rakyat harus berkontribusi kepada negara dengan mengeluarkan pajak pada setiap aktifitas yang kita kerjakan, namun timbal baliknya hanya si pelumas (pemerintah) yang seharusnya bisa mengelola sistem dengan baik untuk menghasilkan akselerasi yang maksimal malah bermain-main dengan hasil keringat rakyatnya..waduh..sungguh harus dipertanyakan kredibilitasnya ini...??
Mungkin sebagian orang mengatakan saya terlalu dini untuk menganalogikan sebuah pemerintahan,mungkin yang diatas hanya contoh untuk negara berkembang atau mungkin lebih tepatnya negara kita, tapi saya juga ingin memberi contoh untuk negara maju yang biasa orang menyebutnya negara adidaya,,,kita tahu dana yang dihabiskan oleh negara adidaya untuk menginvansi negara-negara yang bertententangan dengan mereka atas nama perdamaian..? semua dana yang bertriliunan itu asalnya dari hasil keringat rakyatnya yang dilegalisasi dengan nama pajak,lalu pertanyaan kita di mana kredibilitas negara dalam mensejahterakan rakyatnya, lha wong uang rakyatnya digunakan buat perang...

Negeri Diatas Awan
Impian saya dan mungkin impian kita semua adalah kita punya negri diatas awan yang semuanya bisa dilakukan dengan mantra "brakadbra..", namun sangat tidak mungkin sekali nampaknya..atau seperti semut yang dengan semangat gotong-royongnya mengangkat beban yang berat bersama-sama,.itu tidak mungkin juga...lalu apa impian kita sebenarnya? Impian kita hidup disuatu tempat yang setiap individunya sadar akan kebebasan berfikir, berkompetisi, berkarya tanpa adanya sebuah aturan yang dipaksakan untuk mengikat kita,,,

Rabu, 06 Januari 2010

LOGIKA SEDERHANA DALAM PEMIKIRAN ILMIAH

"Logika"...sering kita mendengar kata-kata itu, tapi sadarkah kita mulai dari logika sederhana itu teori-teori sang maestro ilmiah menciptakan teori yang tak tergantikan sampai sekarang. Apa si yang disebut Logika? Dalam percakapan sehari-hari, logika bisa diartikan sebagai akal sehat. Namun, logika merupakan kata yang berasal dari yunani yaitu logos yang artinya pemikiran atau penalaran. Menurut refrensi yang ada logika adalah pemikiran yang menggunakan prinsip-prinsip, bentuk-bentuk, hukum-hukum, kaidah,kaidah, serta penyimpulan yang sah.
Logika penemuan Teori Relativitas "Einstein"
Lahirnya Teori Relativitas yang dicetuskan oleh Einstein hanya sebuah logika sederhana yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah teori, mengapa tidak dia hanya melamun di sebuah Trem (angkutan pada saat itu) pada saat ia naik trem di kota Bern, kemudian ia membayangakan apa yang akan terjadi apabila trem itu menjauh dari menara jam dengan kecepatan cahaya, maka jam itu akan tampak berhenti karena cahaya tidak bisa dikejar oleh trem, tapi jam yang ada di dalam trem akan berjalan normal. kemudian ia menyimpulkan waktu bisa berdetak dengan kecepatan yang berbeda di seluruh alam semesta ini, bergantung pada seberapa cepat anda bergerak. ini berarti bahwa berbagai peristiwa yang bersifat serentak dalam satu kerangka belum tentu serentak pada kerangka lain. Ini hanya sebuah stimulus untuk berfikir yang kami alurkan dengan logika yang sederhana yang diolah oleh Einstein.
Logika Matematika VS Logika Realita
Dalam paragraf ini saya mengajak untuk bermain pikiran untuk melogika-kan sebuah pernyataan.Sudah kita ketahui bersama bahwa secara logika matematika 3+2 = 5, tapi mari kita logika kan dengan hal yang realita (empiris) , suatu ketika saya punya 3 ekor ayam dalam sebuah kandang kemudian saya tambahkan 2 ayam lagi, kemudian mari kita berfikir apakah ada yang menjamin bahwa hasil setelah beberapa saat hasilnya masih 5 ekor seperti yang ada dalam hitungan matematika? apakah kita tidak berfikir jangan-jangan yang 1 keluar atau bahkan malah tambah lebih dari 1 lagi karena ayam tersebut bertelur dan melahirkan lagi. mengapa dalam logika matematika tidak bisa di realkan?itulah kelemahanya karena matematika netral ia tidak bisa memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan real.ia hanya berisi gagasan-gagasan logis saja.
Ketidak jelasan Teori Peluang
Dalam teori peluang di sebutkan bahwa rata-rata akan mendekati suatu harga konstan (tetap) apabila jumlah observasi akan bertambah besar.dalam teori ini jelas kabur,mengapa?teori ini seolah-olah meninggalkan peluang-peluang yang tak terduga, mari kita logika kan secara sederhana kita ambil uang koin Rp.100 kemudian kita lemparkan 1000 kali,kalau menurut teori peluang maka gambar garuda dengan gambar burung akan mendekati 500:500, tapi apakah kita lupa bahwa bisa juga terjadi perbandingan 1000:0, yang jelas menjauh dari teori peluang.
Berlawanan kah, teori Genetik dengan teori Evolusi.
Sekilas teori ini saling berhubungan, namun kalo kita cermati lebih dalam dengan logika sederhana maka kedua teori ini akan berlawanan. kita cermati teori genetik terlebih dahulu, dalam teori ini disebutkan "pola penurunan sifat genetik dari generasi kegenerasi yang senantiasa menunjukan persamaan spesies dengan induknya" (L.E.P SULEMAN RONDOWU.DASAR-DASAR GENETIKA.1989). teori ini jelas berlawanan dengan teori evolusi karena dalam teori evolusi spesies akan selalu melakukan evolusi sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar, jadi teori ini beranggapan bahwa satu spesies dapat berubah-berubah sesuai dengan kebutuhanya.kemudian pikiran kita menuju dalam sebuah guyonan "mungkinkah nenek moyang dengan cucu moyang hidup berdampingan"(menurut teori evolusi kera adalah nenek moyang manusia).
Catatan kecil tentang Logika sederhana
bait-bait paragraph diatas merupakan contoh funsi logika sebagai kontrol sebuah penemuan ilmiah, kalo dicermati belum tentu pernyataan-pernyataan diatas benar dan belum tentu salah juga.namun kita juga tidak bisa mengklaim begitu saja sebuah teori tanpa dipikirkan dengan bebas dari sudut pandang manapun.
Senandung logika
Karena Apel jatuh
Trem tengah kota
Bak mandi
Bisa mengubah dunia
masihkah kau ragu padaku?

berapa kali apel jatuh dikebun
trem lewat ditengah kota
kita mandi dalam bak
hanya beberapa orang yang menggunakan ku untuk berfikir
lalu siapa yang dikenang?
aku kah atau orang yang menggunakanku...
sadarkah engkau hidup tanpa aku apa bedanya anak TK baca buku Geografi