Oleh: Tahmid Fitrianto
Setiap zaman itu ada roh zamanya, penggalan kalimat itu yang biasa diucapkan oleh kawan saya mahasiswa sejarah. Namun, roh nasionalisme tampaknya masih saja sama dari dulu hingga sekarang. Nasionalisme hanya untuk orang-orang yang berduit,orang yang punya kedudukan, itu juga kata sejarah. Mengapa tidak? Orang-orang yang tercatat dalam sejarah adalah orang-orang yang menyumbangkan seluruh harta, tenaga maupun pikiran. Coba kita ingat adakah sosok pejuang miskin kita yang tercatat dalam sejarah, ya..paling mereka hanya tercatat sebagai “para pahlawan yang telah mendahului kita” itu pun disebut saat upacara.
Lain dulu lain sekarang, namun karena rohnya masih sama sekarang-pun nasionalisme terlalu mahal dinegara kita. Ada fakta unik dibalik mahalnya sebuah nasionalisme dinegara kita. Sekarang, untuk menjadi pejuang negara yang dengan bangga kita sebut TNI (Tentara Nasional Indonesia), setidaknya harus merogoh kocek yang terlalu dalam bahkan itu sudah menjadi rahasia umum. Lalu pertanyaanya, bisakah orang miskin ikut pesta dalam bingkai nasionalisme. Oleh karenanya tidak heran apabila sebagian dari saudara kita yang lebih senang mengabdikan diri menjadi tentara negara tetangga, karena disana harga nasionalisme terlalu rendah malahan disana mereka dibayar bukan sebaliknya yang terjadi dinegara kita.
Rasa-rasanya mahalnya sebuah nasionalisme ini juga dirasakan oleh saudara kita yang ada diperbatasan. Info ini saya peroleh dari kawan saya dari Riau waktu ikut fisip nationl camp dijakarta, mereka bercerita dengan saya untuk membeli sembako produk dalam negri ternyata lebih mahal dari harga sembako negara tetangga yaitu Malasyia. Karenanya untuk makan sehari-hari sebagian dari mereka lebih suka belanja di negara tetangga, itu wajar karena memang harga nasionalisme kita terlalu mahal.
Kedua fakta unik itu adalah sebagian kecil dari banyaknya dampak dari mahalnya sebuah nasionalisme dinegara ini. Yang terlihat jelas dimata kita bahwa ada sebuah hukum timbal balik yang terjadi dalam mempertahankan nasionalisme, karena untuk mendapatkan jiwa nasionalisme mereka harus bayar, maka untuk memperpanjang jiwa nasionalisme mereka juga harus dibayar. Ya...itu rasa-rasanya sudah menjadi hukum yang tidak bisa ditinggalkan dinegara ini, oleh karenanya sebagian dari mereka banyak yang kejar setoran dan hasilnya digertak oleh negara tetangga saja kita tidak berani angkat senjata. Itu wajar karena mereka masih sibuk kejar setoran, yang pastinya tidak mau sibuk-sibuk mati konyol sebelum setorannya cukup.
Memang, nasionalisme itu banyak cara namun kalau kebanyakan cara yang harus ditempuh ujung-ujunnya harus merogoh kocek sendiri,bingung juga mau mati-matian demi negara. Bayangkan saja untuk menjadi TNI atau Polisi kita harus bayar oknum,padahal dinegara tetangga pejuang-pejuang itu malahan tidak ada yang minat. Itulah indonesia dari dulu memang semangat nasionalismenya sangat tinggi, sampai-sampai dinegri sendiri tidak terakumulasi lalu jadi tentara negara tetangga yang tidak harus modal mahal, ya..paling-paling modal badan sehat.
Sebagai penutup tulisan ini, saya sekali lagi ingin menegaskan bahwa nasionalisme yang berlebih memang tidak sehat, ditengah zaman sudah merdeka. Gerakan nasionalisme sekarang adalah bukan hanya scope lokal, ataupun nasional namun gerakan cinta sesama secara global karena kemerdekaan dalam segala hal adalah hak semua manusia tak terbatas satu keturunan, ras ataupun bangsa.
Jumat, 01 Oktober 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Terlalu sempit jika nasionalisme diidentikkan dengan pasukan TNI maupun cinta produk negri sendiri. Menurut cerita bermuatan motivasi yang pernah saya baca ada banyak cara orang mengungkapkan bentuk nasionalismenya. Seperti belajar bahasa internasional secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan pengetahuan dunia dan mengamalkannya untuk menyelamatkan bangsa. Dan kerennya hal tersebut dilakukan oleh sosok manusia yang memiliki latar belakang ekonomi yang memilukan(otodidak)
BalasHapus