Kamis, 10 Maret 2011

Pragmatis dengan Tuhan

Tulisan ini saya awali dengan sebuah syair lagu yang kurang lebih demikian “jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kita beriman kepada-Nya”. Mengapa saya awali dengan pernyataan ini, sesuai dengan judul tulisan saya, bahwa sebenarnya iman kita tidak sebatas sebuah sikap pragmatis antara manusia dengan Tuhan-nya. Itulah sepintas gambaran iman yang terlintas dipikiran saya untuk saat ini.
Saya lahir disebuah desa kecil didaerah kawasan pantura tepatnya didaerah kabupaten Batang. Saya muslim sejak lahir karena warisan dari kedua orang tua. Saya tumbuh ditengah-tengah keluarga dan masyarakat yang awam dengan pengetahuan agama. Ini berkah atau musibah saya pun tidak bisa memvonisnya. Kedua orang tua saya mempunyai pengetahuan agama yang minim, kalau orang bilang hanya Islam KTP. Kondisi tersebut juga tidak jauh beda lingkungan masyarakat disekitar saya juga minim dengan agama, maka kebanyakan orang bilang kalo daerah saya itu sebuah komunitas Islam abangan. Dampak terhadap pemikiran saya adalah saya mendefinisikan agama dengan serampangan, walaupun saya pikir malahan lebih terlihat polos dan jujur daripada yang sudah terkontaminasi dengan dogma-dogma agama.
Kondisi diatas diperparah dengan keadaan ekonomi keluarga saya yang boleh dikatakan kurang, sehingga perjalanan saya sampai sekarang yang secara kebetulan bisa kuliah telah membentuk sebuah paradigma berpikir spiritual yang berbeda pada diri saya. Bagi saya Iman adalah ibarat mata uang yang saya gunakan untuk membeli sesuatu yang saya inginkan kepada Tuhan. Jadi apabila saya ingin sesuatu yang saya cita-citakan maka iman saya akan kuat, saya menjelma menjadi manusia yang selalu ta’at beribadah. Oleh karena itu kondisi iman saya akan terus fluktuatif tergantung apa yang sedang yang saya inginkan, termasuk juga kalau saya ingin masuk surga walaupun keinginan itu berat untuk dijadikan sebuah motivasi saya untuk beriman. Itulah devinisi iman menurut saya yang setidaknya buruk dimata agama saya, tapi menurutku ini lebih sebuah kejujuran hati.
Terkait dengan kondisi spiritualitas saya dengan kondisi real yang saat ini terjadi, mungkin tidak jauh beda dengan saya, akan tetapi mungkin dengan kemasan yang berbeda. Seluruh agama mengajarkan kepada umatnya untuk berdo’a dan meminta kepada Tuhan-nya, walaupun itu usaha yang abstrak tapi sadar atau tidak bahwa mereka bersikap pragmatis kepada Tuhan-nya. Dogma-dogma agama mengatakan bahwa Tuhan-nya lah yang mampu mengubah takdir manusia, maka manusia dengan tidak sadar akan masuk pada kondisi beriman dengan membawa sejuta harapan dan keinginan. Memang sulit untuk mengaku beriman dengan motif  karena seseorang benar-benar meyakini dari hati tanpa ada dorongan keinginan dan harapan, seperti misalnya saja keinginan untuk masuk surga, itu kondisi yang saya rasakan sampai saat sekarang ini terlepas dari perdebatan Tuhan itu benar-benar ada atau tidak.
Dampak dari paradigma berpikir saya tentang sebuah, Iman, Tuhan dan agama membuat saya lebih fleksibel mengenai permasalahan keagamaan. Bagi saya agama adalah sebuah konsekuensi pribadi yang orang lain tidak bisa se-enaknya sendiri mempengaruhinya. Agama, Tuhan dan Iman adalah sebuah pemicu untuk kita bertindak, masing-masing agama mempunyai caranya sendiri untuk meyakinkan umatnya agar beriman, sehingga tidak tepat untuk saling menghujat. Dengan kita selalu pragmatis dengan Tuhan, setidaknya kita akan selalu berharap dan berdo’a terhadap Tuhan dan kita akan selalu optimis untuk menjalani hidup.

Jumat, 28 Januari 2011

Logika Iman Dalam Perspektif Plurarisme


Tulisan ini saya awali dari cerita 4 saudara kandung yang mempunyai keyakinan keimanan yang berbeda. Si A mengimani Tuhan-nya dengan penuh keyakinan, begitu juga si B dia juga mengimani Tuhan-nya tidak kalah yakinya dengan saudara lainya, apalagi si C dan si D,mereka juga mengalami hal yang sama. Padahal mereka hidup didunia yang sama, lingkungan yang sama , Ibu dan Bapak sama juga dan tentunya Tuhan mereka juga sama. Lalu pertanyaanya Tuhan-nya siapa yang benar-benar ada? Mungkinkah satu orang punya satu Tuhan? Pertanyaan ini pasti apabila ditanyakan kepada ke empat saudara kandung tersebut jawabanya pasti sama-sama Tuhan-nya masing-masing itu ada dan yang lain adalah tidak benar. Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas itulah yang membuat sensitif sekali dan mengancam pluraritas kehidupan beragama jika masing-masing menganggap yang lain adalah sesat. Dalam kesempatan ini saya mencoba memainkan logika sebagai alur pemikiran manusia yang pertama dalam menerima informasi.
Logika Sebagai Motif Awal Dalam Menggapai Keimanan
Sebelum membahas terlalu jauh, maksud dari logika dalam sub-bab tulisan ini adalah bahwa logika merupakan teknik atau cara manusia untuk meneliti ketepatan/kebenaran dari penalaranya (penalaran dirinya atau penalaran orang lain). Penalaran atau lebih enaknya disebut dengan buah pikiran, itu sendiri dipengaruhi oleh pengalaman empirik dan sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat (wajar). Dari penalaran tersebut kita dapat mengambil sebuah preposisi atau pernyataan yang diyakini kebenaran atau kesalahanya oleh individu maupun oleh manusia pada umumnya. Oleh karena itu, logika menurut saya merupakan pemicu awal dari apa yang akan kita lakukan (pemicu tindakan manusia) termasuk dalam menentukan keimanan seseorang.
Mengacu dari paragraf diatas tentang logika, terkait dengan keimanan disini jelas bahwa sebenarnya setiap agama mempunyai data-data yang dianggap empirik oleh  pengikutnya, tentunya juga dianggap benar tanpa syarat oleh mereka. Namun akan berbeda respon ketika data empirik tersebut diberikan kepada pengikut agama lain, karena mereka juga mempunyai data-data empiruk versi mereka sendiri. Oleh karena itu saya tegaskan sekali lagi bahwa alur penalaran logika sangat berpengaruh sekali terhadap keimanan seseorang.
Hakikat Iman dalam Konteks Pluraritas
Kita tentunya sepakat jika definisi keimanan tidak hanya pengakuan secara nalariah saja, lebih dari itu seharusnya. Keimanan lebih tepat diartikan sebuah totalitas tindakan manusia artinya bahwa apabila seseorang beriman maka implikasinya harus meyakini dalam hati dan pikiran, mengucapkan dengan lisan serta melakukan cerminan iman tersebut dengan perbuatan.  Oleh karena itu mestinya orang yang beriman maka tidak bisa kemudian percaya begitu saja dengan agama lain, artinya bahwa dalam ranah keyakinan mereka sudah tidak ada celah untuk terpengaruh oleh kepercayaan lain. Dengan demikian ini seharusnya berpotensi terciptanya masyarakat yang pluraris, mengapa? Karena dengan mereka mempunyai keimanan yang kuat mereka tidak khawatir lagi untuk bergaul dan bermasyarakat dengan pemeluk agama lain. Moment ini yang kemudian akan timbul toleransi antar umat beragama dan lambat laun akan tercipta sebuah masyarakat yang pluraris dan tahan terhadap guncangan konflik, karena pada dasarnya mereka sudah saling memahami satu sama lain.    
Sebagai closing statement dalam tulisan singkat ini saya mencoba memberikan saran bahwa untuk menciptakan masyarakat yang pluraris dan harmonis antar umat beragama maka yang pertama dilakukan hendaknya membenahi kualitas keimanan umatnya dengan caranya masing-masing. Hal ini juga terjadi di Mesir walaupun warganya mayoritas muslim tapi mereka masih hidup berdampingan dengan umat agama lain seperti kristen koptik, dan banyak lagi contoh yang lain tentunya.

Rabu, 05 Januari 2011

Menatap Masa Depan Mahasiswa Indonesia; Refleksi dan Prediksi

Oleh : Tahmid Fitrianto
Tulisan ini saya awali dengan sebuah cerita 3 orang mahasiswa yang mempunyai aktifitas sama sekali berbeda walaupun tinggal satu kos. Agus adalah mahasiswa yang kerjaanya berdiskusi, dia ikut full kegiatan organisasi intra maupun ekstra, dia kalau ngobrol lebih suka yang politis dan idealis, yang secara sepihak saya sebut Agus adalah tipe mahasiswa ekstrim idealis. Kemudian Dani adalah sosok mahasiswa yang cerdas dalam hal akademik, dia sering menjadi asdos dan jago dalam hal ilmiah, yang selanjutnya saya sedut tipe mahasiswa Ekstrim akademis. Terakhir adalah Alex adalah mahasiswa yang di akademis biasa-biasa saja apalagi dalam dunia organisasi kampus dia sangat apatis. Dengan kondisi orang tuanya lumayan berduit membuat aktifitas Alex berbeda dengan kedua tipe diatas, dia sukanya nongkrong dengan klub motornya, belanja dengan ceweknya dan sibuk nyari trend fashion biar gax dibilang jadul, tipe mahasiswa ini saya sebut Ekstrim hedonis.
Ketiga mahasiswa ini tidak saya katakan ekstrim buruk, ataupun ekstrim baik. Tergantung dari perspektif mana kita memadangnya. Yang perlu kita soroti bukan aktfitasnya tapi mereka seperti ini karena sebuah pilihan yang sudah tersedia didalam dunia kampus tentunya. Sisa-sisa gerakan ’98, nampaknya sudah tidak relevan lagi apabila saya sebut sebagai roh pergerakan mahasiswa sekarang. Hanya sebagian dari tipe mahasiswa yang masih terlarut dalam gerakan mahasiswa ’98 yang tadi saya sebut sebagai mahasiswa ekstrim idealis. Itu pun tidak semua mahasiswa tipe itu terinspirasi oleh gerakan ’98, namun perlu di ingat bahwa sebagian dari mereka juga merupakan mahasiswa yang ekstrim idealis agama yang semua pergerakanya di roh-i oleh semangat da’wah (terlepas dari mahasiswa yang mengatasnamakan da’wah sebagai tunggangan politis). Untuk kedua tipe mahasiswa yanga ekstrim akademis dan hedonis ini saya melihatnya bukan terinspirasi oleh roh zaman, namun lebih condong kepada kebutuhan individu, karena tidak ada pilihan lagi dalam dunia kampus selain ketiga dunia mahasiswa tersebut.
Sebenarnya ketiga tipe mahasiswa tersebut bagus, namun berlaku dalam cakupan lokal maupun nasional karena ketiga mahasiswa tersebut masing-masing memegang peranannya, yaitu ekstrim idealis untuk memikirkan negara, ekstrim akademis untuk memikirkan perkembangan dunia ilmiah dan yang tidak kalah penting adalah ekstrim hedonis ini bisa menjadi pekerja kasar yang terdidik, karena tipe mahasiswa yang satu ini orientasinya hanya mencari pekerjaan, itu saja. Analogi ketiga tipe tersebut memang tepat, apabila mereka ditempatkan pada porsinya akan berkembang dengan baik namun masalahnya apabila mereka harus ditempatkan didunia kerja yang sama sekali bukan dunia mereka, apakah gerangan yang terjadi? Pastilah akan menambah masalah tentunya, misalnya mahasiswa yang ekstrim idealis kemudian menjadi pengajar disuatu sekolah yang kasihan adalah siswanya, pasti mereka akan lugu dalam hal update informasi ilmiah mengenai hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar.
Prediksi Mahasiswa Masadepan
Dalam tulisan ini sebenarnya prediksi saya tentang munculnya tipe mahasiswa ekstrim globalis (istilah yang saya usulkan). Tipe mahasiswa ini orientasinya tidak hanya pada lingkup lokal maupun nasional, namun mahasiswa ini sudah berorientasi global. Mahasiswa ini sudah tidak sibuk tentang nasionalisme tetapi sudah berpikir globalisme yang tidak terikat oleh batas administratif negara, apalagi paham lokal. Artinya gerakan mahasiswa ini sudah lintas negara, dan isue-isue global sudah menjadi pembahasan pokoknya. Ikatan emosional global sudah terbentuk dengan sikap peduli sesama secara universal. Jarak sudah tidak menjadi masalah lagi bagi mahasiswa tipe ini karena semakin maju ke depan perkembangan teknologi informasi sudah tidak bisa terbendung lagi.
Uraian paragraf yang tadi saya ajukan adalah prediksi mahasiswa indonesia yang saya sebut sebagai tipe ekstrim globalis. Lalu kapan mahasiswa ini akan muncul? Secara temporal saya tidak bisa menentukan secara pasti akan tetapi komponen pembentuknya sudah gencar masuk dalam pembahasan dunia kampus. Ini diawali oleh isue perdaganga bebas, yang diikuti oleh perkembangan teknologi informasi yang tak terbendung tentunya akan menjadikan diskusi dunia kampus akan lari kesana. Dan terkait dengan perdagangan bebas, maka akan tercipta zona-zona bebas yang pastinya cakupan gerak mahasiswa kita sudah tidak terbatasi oleh batas administratif negara. Gerakan-gerakan internatioal (gerakan mahasiswa antar bangsa) akan tumbuh bak cendawan dimusim hujan. Dan perlu di ingat, bahwa tumbuhnya sekolah-sekolah bertaraf internasional akan mengubah mindset calon mahasiswa kearah pergaulan global.
Dari deretan paragraf yang saya ajukan adalah sebuah refleksi kondisi mahasiswa sampai sekarang dan prediksi saya mengenai kondisi mahasiswa masa depan. Sengaja saya kotak-kotak dengan beberapa tipe agar pembahasanya lebih spesifik karena kalau berbicara tentang mahasiswa akan melebar dan tidak akan ada habisnya.