Rabu, 05 Januari 2011

Menatap Masa Depan Mahasiswa Indonesia; Refleksi dan Prediksi

Oleh : Tahmid Fitrianto
Tulisan ini saya awali dengan sebuah cerita 3 orang mahasiswa yang mempunyai aktifitas sama sekali berbeda walaupun tinggal satu kos. Agus adalah mahasiswa yang kerjaanya berdiskusi, dia ikut full kegiatan organisasi intra maupun ekstra, dia kalau ngobrol lebih suka yang politis dan idealis, yang secara sepihak saya sebut Agus adalah tipe mahasiswa ekstrim idealis. Kemudian Dani adalah sosok mahasiswa yang cerdas dalam hal akademik, dia sering menjadi asdos dan jago dalam hal ilmiah, yang selanjutnya saya sedut tipe mahasiswa Ekstrim akademis. Terakhir adalah Alex adalah mahasiswa yang di akademis biasa-biasa saja apalagi dalam dunia organisasi kampus dia sangat apatis. Dengan kondisi orang tuanya lumayan berduit membuat aktifitas Alex berbeda dengan kedua tipe diatas, dia sukanya nongkrong dengan klub motornya, belanja dengan ceweknya dan sibuk nyari trend fashion biar gax dibilang jadul, tipe mahasiswa ini saya sebut Ekstrim hedonis.
Ketiga mahasiswa ini tidak saya katakan ekstrim buruk, ataupun ekstrim baik. Tergantung dari perspektif mana kita memadangnya. Yang perlu kita soroti bukan aktfitasnya tapi mereka seperti ini karena sebuah pilihan yang sudah tersedia didalam dunia kampus tentunya. Sisa-sisa gerakan ’98, nampaknya sudah tidak relevan lagi apabila saya sebut sebagai roh pergerakan mahasiswa sekarang. Hanya sebagian dari tipe mahasiswa yang masih terlarut dalam gerakan mahasiswa ’98 yang tadi saya sebut sebagai mahasiswa ekstrim idealis. Itu pun tidak semua mahasiswa tipe itu terinspirasi oleh gerakan ’98, namun perlu di ingat bahwa sebagian dari mereka juga merupakan mahasiswa yang ekstrim idealis agama yang semua pergerakanya di roh-i oleh semangat da’wah (terlepas dari mahasiswa yang mengatasnamakan da’wah sebagai tunggangan politis). Untuk kedua tipe mahasiswa yanga ekstrim akademis dan hedonis ini saya melihatnya bukan terinspirasi oleh roh zaman, namun lebih condong kepada kebutuhan individu, karena tidak ada pilihan lagi dalam dunia kampus selain ketiga dunia mahasiswa tersebut.
Sebenarnya ketiga tipe mahasiswa tersebut bagus, namun berlaku dalam cakupan lokal maupun nasional karena ketiga mahasiswa tersebut masing-masing memegang peranannya, yaitu ekstrim idealis untuk memikirkan negara, ekstrim akademis untuk memikirkan perkembangan dunia ilmiah dan yang tidak kalah penting adalah ekstrim hedonis ini bisa menjadi pekerja kasar yang terdidik, karena tipe mahasiswa yang satu ini orientasinya hanya mencari pekerjaan, itu saja. Analogi ketiga tipe tersebut memang tepat, apabila mereka ditempatkan pada porsinya akan berkembang dengan baik namun masalahnya apabila mereka harus ditempatkan didunia kerja yang sama sekali bukan dunia mereka, apakah gerangan yang terjadi? Pastilah akan menambah masalah tentunya, misalnya mahasiswa yang ekstrim idealis kemudian menjadi pengajar disuatu sekolah yang kasihan adalah siswanya, pasti mereka akan lugu dalam hal update informasi ilmiah mengenai hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar.
Prediksi Mahasiswa Masadepan
Dalam tulisan ini sebenarnya prediksi saya tentang munculnya tipe mahasiswa ekstrim globalis (istilah yang saya usulkan). Tipe mahasiswa ini orientasinya tidak hanya pada lingkup lokal maupun nasional, namun mahasiswa ini sudah berorientasi global. Mahasiswa ini sudah tidak sibuk tentang nasionalisme tetapi sudah berpikir globalisme yang tidak terikat oleh batas administratif negara, apalagi paham lokal. Artinya gerakan mahasiswa ini sudah lintas negara, dan isue-isue global sudah menjadi pembahasan pokoknya. Ikatan emosional global sudah terbentuk dengan sikap peduli sesama secara universal. Jarak sudah tidak menjadi masalah lagi bagi mahasiswa tipe ini karena semakin maju ke depan perkembangan teknologi informasi sudah tidak bisa terbendung lagi.
Uraian paragraf yang tadi saya ajukan adalah prediksi mahasiswa indonesia yang saya sebut sebagai tipe ekstrim globalis. Lalu kapan mahasiswa ini akan muncul? Secara temporal saya tidak bisa menentukan secara pasti akan tetapi komponen pembentuknya sudah gencar masuk dalam pembahasan dunia kampus. Ini diawali oleh isue perdaganga bebas, yang diikuti oleh perkembangan teknologi informasi yang tak terbendung tentunya akan menjadikan diskusi dunia kampus akan lari kesana. Dan terkait dengan perdagangan bebas, maka akan tercipta zona-zona bebas yang pastinya cakupan gerak mahasiswa kita sudah tidak terbatasi oleh batas administratif negara. Gerakan-gerakan internatioal (gerakan mahasiswa antar bangsa) akan tumbuh bak cendawan dimusim hujan. Dan perlu di ingat, bahwa tumbuhnya sekolah-sekolah bertaraf internasional akan mengubah mindset calon mahasiswa kearah pergaulan global.
Dari deretan paragraf yang saya ajukan adalah sebuah refleksi kondisi mahasiswa sampai sekarang dan prediksi saya mengenai kondisi mahasiswa masa depan. Sengaja saya kotak-kotak dengan beberapa tipe agar pembahasanya lebih spesifik karena kalau berbicara tentang mahasiswa akan melebar dan tidak akan ada habisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar