Jumat, 28 Januari 2011

Logika Iman Dalam Perspektif Plurarisme


Tulisan ini saya awali dari cerita 4 saudara kandung yang mempunyai keyakinan keimanan yang berbeda. Si A mengimani Tuhan-nya dengan penuh keyakinan, begitu juga si B dia juga mengimani Tuhan-nya tidak kalah yakinya dengan saudara lainya, apalagi si C dan si D,mereka juga mengalami hal yang sama. Padahal mereka hidup didunia yang sama, lingkungan yang sama , Ibu dan Bapak sama juga dan tentunya Tuhan mereka juga sama. Lalu pertanyaanya Tuhan-nya siapa yang benar-benar ada? Mungkinkah satu orang punya satu Tuhan? Pertanyaan ini pasti apabila ditanyakan kepada ke empat saudara kandung tersebut jawabanya pasti sama-sama Tuhan-nya masing-masing itu ada dan yang lain adalah tidak benar. Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas itulah yang membuat sensitif sekali dan mengancam pluraritas kehidupan beragama jika masing-masing menganggap yang lain adalah sesat. Dalam kesempatan ini saya mencoba memainkan logika sebagai alur pemikiran manusia yang pertama dalam menerima informasi.
Logika Sebagai Motif Awal Dalam Menggapai Keimanan
Sebelum membahas terlalu jauh, maksud dari logika dalam sub-bab tulisan ini adalah bahwa logika merupakan teknik atau cara manusia untuk meneliti ketepatan/kebenaran dari penalaranya (penalaran dirinya atau penalaran orang lain). Penalaran atau lebih enaknya disebut dengan buah pikiran, itu sendiri dipengaruhi oleh pengalaman empirik dan sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat (wajar). Dari penalaran tersebut kita dapat mengambil sebuah preposisi atau pernyataan yang diyakini kebenaran atau kesalahanya oleh individu maupun oleh manusia pada umumnya. Oleh karena itu, logika menurut saya merupakan pemicu awal dari apa yang akan kita lakukan (pemicu tindakan manusia) termasuk dalam menentukan keimanan seseorang.
Mengacu dari paragraf diatas tentang logika, terkait dengan keimanan disini jelas bahwa sebenarnya setiap agama mempunyai data-data yang dianggap empirik oleh  pengikutnya, tentunya juga dianggap benar tanpa syarat oleh mereka. Namun akan berbeda respon ketika data empirik tersebut diberikan kepada pengikut agama lain, karena mereka juga mempunyai data-data empiruk versi mereka sendiri. Oleh karena itu saya tegaskan sekali lagi bahwa alur penalaran logika sangat berpengaruh sekali terhadap keimanan seseorang.
Hakikat Iman dalam Konteks Pluraritas
Kita tentunya sepakat jika definisi keimanan tidak hanya pengakuan secara nalariah saja, lebih dari itu seharusnya. Keimanan lebih tepat diartikan sebuah totalitas tindakan manusia artinya bahwa apabila seseorang beriman maka implikasinya harus meyakini dalam hati dan pikiran, mengucapkan dengan lisan serta melakukan cerminan iman tersebut dengan perbuatan.  Oleh karena itu mestinya orang yang beriman maka tidak bisa kemudian percaya begitu saja dengan agama lain, artinya bahwa dalam ranah keyakinan mereka sudah tidak ada celah untuk terpengaruh oleh kepercayaan lain. Dengan demikian ini seharusnya berpotensi terciptanya masyarakat yang pluraris, mengapa? Karena dengan mereka mempunyai keimanan yang kuat mereka tidak khawatir lagi untuk bergaul dan bermasyarakat dengan pemeluk agama lain. Moment ini yang kemudian akan timbul toleransi antar umat beragama dan lambat laun akan tercipta sebuah masyarakat yang pluraris dan tahan terhadap guncangan konflik, karena pada dasarnya mereka sudah saling memahami satu sama lain.    
Sebagai closing statement dalam tulisan singkat ini saya mencoba memberikan saran bahwa untuk menciptakan masyarakat yang pluraris dan harmonis antar umat beragama maka yang pertama dilakukan hendaknya membenahi kualitas keimanan umatnya dengan caranya masing-masing. Hal ini juga terjadi di Mesir walaupun warganya mayoritas muslim tapi mereka masih hidup berdampingan dengan umat agama lain seperti kristen koptik, dan banyak lagi contoh yang lain tentunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar