Kamis, 10 Maret 2011

Pragmatis dengan Tuhan

Tulisan ini saya awali dengan sebuah syair lagu yang kurang lebih demikian “jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kita beriman kepada-Nya”. Mengapa saya awali dengan pernyataan ini, sesuai dengan judul tulisan saya, bahwa sebenarnya iman kita tidak sebatas sebuah sikap pragmatis antara manusia dengan Tuhan-nya. Itulah sepintas gambaran iman yang terlintas dipikiran saya untuk saat ini.
Saya lahir disebuah desa kecil didaerah kawasan pantura tepatnya didaerah kabupaten Batang. Saya muslim sejak lahir karena warisan dari kedua orang tua. Saya tumbuh ditengah-tengah keluarga dan masyarakat yang awam dengan pengetahuan agama. Ini berkah atau musibah saya pun tidak bisa memvonisnya. Kedua orang tua saya mempunyai pengetahuan agama yang minim, kalau orang bilang hanya Islam KTP. Kondisi tersebut juga tidak jauh beda lingkungan masyarakat disekitar saya juga minim dengan agama, maka kebanyakan orang bilang kalo daerah saya itu sebuah komunitas Islam abangan. Dampak terhadap pemikiran saya adalah saya mendefinisikan agama dengan serampangan, walaupun saya pikir malahan lebih terlihat polos dan jujur daripada yang sudah terkontaminasi dengan dogma-dogma agama.
Kondisi diatas diperparah dengan keadaan ekonomi keluarga saya yang boleh dikatakan kurang, sehingga perjalanan saya sampai sekarang yang secara kebetulan bisa kuliah telah membentuk sebuah paradigma berpikir spiritual yang berbeda pada diri saya. Bagi saya Iman adalah ibarat mata uang yang saya gunakan untuk membeli sesuatu yang saya inginkan kepada Tuhan. Jadi apabila saya ingin sesuatu yang saya cita-citakan maka iman saya akan kuat, saya menjelma menjadi manusia yang selalu ta’at beribadah. Oleh karena itu kondisi iman saya akan terus fluktuatif tergantung apa yang sedang yang saya inginkan, termasuk juga kalau saya ingin masuk surga walaupun keinginan itu berat untuk dijadikan sebuah motivasi saya untuk beriman. Itulah devinisi iman menurut saya yang setidaknya buruk dimata agama saya, tapi menurutku ini lebih sebuah kejujuran hati.
Terkait dengan kondisi spiritualitas saya dengan kondisi real yang saat ini terjadi, mungkin tidak jauh beda dengan saya, akan tetapi mungkin dengan kemasan yang berbeda. Seluruh agama mengajarkan kepada umatnya untuk berdo’a dan meminta kepada Tuhan-nya, walaupun itu usaha yang abstrak tapi sadar atau tidak bahwa mereka bersikap pragmatis kepada Tuhan-nya. Dogma-dogma agama mengatakan bahwa Tuhan-nya lah yang mampu mengubah takdir manusia, maka manusia dengan tidak sadar akan masuk pada kondisi beriman dengan membawa sejuta harapan dan keinginan. Memang sulit untuk mengaku beriman dengan motif  karena seseorang benar-benar meyakini dari hati tanpa ada dorongan keinginan dan harapan, seperti misalnya saja keinginan untuk masuk surga, itu kondisi yang saya rasakan sampai saat sekarang ini terlepas dari perdebatan Tuhan itu benar-benar ada atau tidak.
Dampak dari paradigma berpikir saya tentang sebuah, Iman, Tuhan dan agama membuat saya lebih fleksibel mengenai permasalahan keagamaan. Bagi saya agama adalah sebuah konsekuensi pribadi yang orang lain tidak bisa se-enaknya sendiri mempengaruhinya. Agama, Tuhan dan Iman adalah sebuah pemicu untuk kita bertindak, masing-masing agama mempunyai caranya sendiri untuk meyakinkan umatnya agar beriman, sehingga tidak tepat untuk saling menghujat. Dengan kita selalu pragmatis dengan Tuhan, setidaknya kita akan selalu berharap dan berdo’a terhadap Tuhan dan kita akan selalu optimis untuk menjalani hidup.

Jumat, 28 Januari 2011

Logika Iman Dalam Perspektif Plurarisme


Tulisan ini saya awali dari cerita 4 saudara kandung yang mempunyai keyakinan keimanan yang berbeda. Si A mengimani Tuhan-nya dengan penuh keyakinan, begitu juga si B dia juga mengimani Tuhan-nya tidak kalah yakinya dengan saudara lainya, apalagi si C dan si D,mereka juga mengalami hal yang sama. Padahal mereka hidup didunia yang sama, lingkungan yang sama , Ibu dan Bapak sama juga dan tentunya Tuhan mereka juga sama. Lalu pertanyaanya Tuhan-nya siapa yang benar-benar ada? Mungkinkah satu orang punya satu Tuhan? Pertanyaan ini pasti apabila ditanyakan kepada ke empat saudara kandung tersebut jawabanya pasti sama-sama Tuhan-nya masing-masing itu ada dan yang lain adalah tidak benar. Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas itulah yang membuat sensitif sekali dan mengancam pluraritas kehidupan beragama jika masing-masing menganggap yang lain adalah sesat. Dalam kesempatan ini saya mencoba memainkan logika sebagai alur pemikiran manusia yang pertama dalam menerima informasi.
Logika Sebagai Motif Awal Dalam Menggapai Keimanan
Sebelum membahas terlalu jauh, maksud dari logika dalam sub-bab tulisan ini adalah bahwa logika merupakan teknik atau cara manusia untuk meneliti ketepatan/kebenaran dari penalaranya (penalaran dirinya atau penalaran orang lain). Penalaran atau lebih enaknya disebut dengan buah pikiran, itu sendiri dipengaruhi oleh pengalaman empirik dan sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat (wajar). Dari penalaran tersebut kita dapat mengambil sebuah preposisi atau pernyataan yang diyakini kebenaran atau kesalahanya oleh individu maupun oleh manusia pada umumnya. Oleh karena itu, logika menurut saya merupakan pemicu awal dari apa yang akan kita lakukan (pemicu tindakan manusia) termasuk dalam menentukan keimanan seseorang.
Mengacu dari paragraf diatas tentang logika, terkait dengan keimanan disini jelas bahwa sebenarnya setiap agama mempunyai data-data yang dianggap empirik oleh  pengikutnya, tentunya juga dianggap benar tanpa syarat oleh mereka. Namun akan berbeda respon ketika data empirik tersebut diberikan kepada pengikut agama lain, karena mereka juga mempunyai data-data empiruk versi mereka sendiri. Oleh karena itu saya tegaskan sekali lagi bahwa alur penalaran logika sangat berpengaruh sekali terhadap keimanan seseorang.
Hakikat Iman dalam Konteks Pluraritas
Kita tentunya sepakat jika definisi keimanan tidak hanya pengakuan secara nalariah saja, lebih dari itu seharusnya. Keimanan lebih tepat diartikan sebuah totalitas tindakan manusia artinya bahwa apabila seseorang beriman maka implikasinya harus meyakini dalam hati dan pikiran, mengucapkan dengan lisan serta melakukan cerminan iman tersebut dengan perbuatan.  Oleh karena itu mestinya orang yang beriman maka tidak bisa kemudian percaya begitu saja dengan agama lain, artinya bahwa dalam ranah keyakinan mereka sudah tidak ada celah untuk terpengaruh oleh kepercayaan lain. Dengan demikian ini seharusnya berpotensi terciptanya masyarakat yang pluraris, mengapa? Karena dengan mereka mempunyai keimanan yang kuat mereka tidak khawatir lagi untuk bergaul dan bermasyarakat dengan pemeluk agama lain. Moment ini yang kemudian akan timbul toleransi antar umat beragama dan lambat laun akan tercipta sebuah masyarakat yang pluraris dan tahan terhadap guncangan konflik, karena pada dasarnya mereka sudah saling memahami satu sama lain.    
Sebagai closing statement dalam tulisan singkat ini saya mencoba memberikan saran bahwa untuk menciptakan masyarakat yang pluraris dan harmonis antar umat beragama maka yang pertama dilakukan hendaknya membenahi kualitas keimanan umatnya dengan caranya masing-masing. Hal ini juga terjadi di Mesir walaupun warganya mayoritas muslim tapi mereka masih hidup berdampingan dengan umat agama lain seperti kristen koptik, dan banyak lagi contoh yang lain tentunya.

Rabu, 05 Januari 2011

Menatap Masa Depan Mahasiswa Indonesia; Refleksi dan Prediksi

Oleh : Tahmid Fitrianto
Tulisan ini saya awali dengan sebuah cerita 3 orang mahasiswa yang mempunyai aktifitas sama sekali berbeda walaupun tinggal satu kos. Agus adalah mahasiswa yang kerjaanya berdiskusi, dia ikut full kegiatan organisasi intra maupun ekstra, dia kalau ngobrol lebih suka yang politis dan idealis, yang secara sepihak saya sebut Agus adalah tipe mahasiswa ekstrim idealis. Kemudian Dani adalah sosok mahasiswa yang cerdas dalam hal akademik, dia sering menjadi asdos dan jago dalam hal ilmiah, yang selanjutnya saya sedut tipe mahasiswa Ekstrim akademis. Terakhir adalah Alex adalah mahasiswa yang di akademis biasa-biasa saja apalagi dalam dunia organisasi kampus dia sangat apatis. Dengan kondisi orang tuanya lumayan berduit membuat aktifitas Alex berbeda dengan kedua tipe diatas, dia sukanya nongkrong dengan klub motornya, belanja dengan ceweknya dan sibuk nyari trend fashion biar gax dibilang jadul, tipe mahasiswa ini saya sebut Ekstrim hedonis.
Ketiga mahasiswa ini tidak saya katakan ekstrim buruk, ataupun ekstrim baik. Tergantung dari perspektif mana kita memadangnya. Yang perlu kita soroti bukan aktfitasnya tapi mereka seperti ini karena sebuah pilihan yang sudah tersedia didalam dunia kampus tentunya. Sisa-sisa gerakan ’98, nampaknya sudah tidak relevan lagi apabila saya sebut sebagai roh pergerakan mahasiswa sekarang. Hanya sebagian dari tipe mahasiswa yang masih terlarut dalam gerakan mahasiswa ’98 yang tadi saya sebut sebagai mahasiswa ekstrim idealis. Itu pun tidak semua mahasiswa tipe itu terinspirasi oleh gerakan ’98, namun perlu di ingat bahwa sebagian dari mereka juga merupakan mahasiswa yang ekstrim idealis agama yang semua pergerakanya di roh-i oleh semangat da’wah (terlepas dari mahasiswa yang mengatasnamakan da’wah sebagai tunggangan politis). Untuk kedua tipe mahasiswa yanga ekstrim akademis dan hedonis ini saya melihatnya bukan terinspirasi oleh roh zaman, namun lebih condong kepada kebutuhan individu, karena tidak ada pilihan lagi dalam dunia kampus selain ketiga dunia mahasiswa tersebut.
Sebenarnya ketiga tipe mahasiswa tersebut bagus, namun berlaku dalam cakupan lokal maupun nasional karena ketiga mahasiswa tersebut masing-masing memegang peranannya, yaitu ekstrim idealis untuk memikirkan negara, ekstrim akademis untuk memikirkan perkembangan dunia ilmiah dan yang tidak kalah penting adalah ekstrim hedonis ini bisa menjadi pekerja kasar yang terdidik, karena tipe mahasiswa yang satu ini orientasinya hanya mencari pekerjaan, itu saja. Analogi ketiga tipe tersebut memang tepat, apabila mereka ditempatkan pada porsinya akan berkembang dengan baik namun masalahnya apabila mereka harus ditempatkan didunia kerja yang sama sekali bukan dunia mereka, apakah gerangan yang terjadi? Pastilah akan menambah masalah tentunya, misalnya mahasiswa yang ekstrim idealis kemudian menjadi pengajar disuatu sekolah yang kasihan adalah siswanya, pasti mereka akan lugu dalam hal update informasi ilmiah mengenai hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar.
Prediksi Mahasiswa Masadepan
Dalam tulisan ini sebenarnya prediksi saya tentang munculnya tipe mahasiswa ekstrim globalis (istilah yang saya usulkan). Tipe mahasiswa ini orientasinya tidak hanya pada lingkup lokal maupun nasional, namun mahasiswa ini sudah berorientasi global. Mahasiswa ini sudah tidak sibuk tentang nasionalisme tetapi sudah berpikir globalisme yang tidak terikat oleh batas administratif negara, apalagi paham lokal. Artinya gerakan mahasiswa ini sudah lintas negara, dan isue-isue global sudah menjadi pembahasan pokoknya. Ikatan emosional global sudah terbentuk dengan sikap peduli sesama secara universal. Jarak sudah tidak menjadi masalah lagi bagi mahasiswa tipe ini karena semakin maju ke depan perkembangan teknologi informasi sudah tidak bisa terbendung lagi.
Uraian paragraf yang tadi saya ajukan adalah prediksi mahasiswa indonesia yang saya sebut sebagai tipe ekstrim globalis. Lalu kapan mahasiswa ini akan muncul? Secara temporal saya tidak bisa menentukan secara pasti akan tetapi komponen pembentuknya sudah gencar masuk dalam pembahasan dunia kampus. Ini diawali oleh isue perdaganga bebas, yang diikuti oleh perkembangan teknologi informasi yang tak terbendung tentunya akan menjadikan diskusi dunia kampus akan lari kesana. Dan terkait dengan perdagangan bebas, maka akan tercipta zona-zona bebas yang pastinya cakupan gerak mahasiswa kita sudah tidak terbatasi oleh batas administratif negara. Gerakan-gerakan internatioal (gerakan mahasiswa antar bangsa) akan tumbuh bak cendawan dimusim hujan. Dan perlu di ingat, bahwa tumbuhnya sekolah-sekolah bertaraf internasional akan mengubah mindset calon mahasiswa kearah pergaulan global.
Dari deretan paragraf yang saya ajukan adalah sebuah refleksi kondisi mahasiswa sampai sekarang dan prediksi saya mengenai kondisi mahasiswa masa depan. Sengaja saya kotak-kotak dengan beberapa tipe agar pembahasanya lebih spesifik karena kalau berbicara tentang mahasiswa akan melebar dan tidak akan ada habisnya.

Selasa, 14 Desember 2010

Catatan Tentang : Logika Tindakan, Logika Formal Dan Sistem Etika (#1)

Oleh Tahmid Fitrianto
Tulisan ini berawal dari kecurigaan saya tentang tingkah-tingkah unik yang timbul dari lingkungan sekitar saya. Tingkah laku yang menurut saya tidak lazim pada umumnya, beragam alasanya dari masalah prinsip ataupun idealisme yag selama ini mereka yakini. Mungkin anda juga pernah melihat hal yang sama dengan saya, dengan alasan yang berbeda pula tentunya. Lalu pertanyaanya apa sih sebenarnya dibalik motif yang mereka lakukan? Atau jangan-jangan malah kita yang dianggap aneh oleh lingkungan sekitar kita? Dalam tulisan ini saya berusaha memaksa menghubung-hubungkan masalah logika dasar, teori tindakan (praksiologi) dan teori etika dasar, dengan literatur seadanya yang saya peroleh dari perpus maupun buku warisan...mudah-mudahan bisa menemukan korelasi ketiga konsep tersebut yang sama-sama membahas tentang manusia. Memang, tulisan ini terlihat subyektif dengan ini harapanya masih ada celah untuk ruang diskusi karena saya tidak membatasi pendapat anda semua.
Logika Sebagai Motif Awal Tindakan Manusia
Sebelum membahas terlalu jauh, maksud dari logika dalam sub-bab tulisan ini adalah bahwa logika merupakan teknik atau cara manusia untuk meneliti ketepatan/kebenaran dari penalaranya (penalaran dirinya atau penalaran orang lain). Penalaran atau lebih enaknya disebut dengan buah pikiran, itu sendiri dipengaruhi oleh pengalaman empirik dan sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat (wajar). Dari penalaran tersebut kita dapat mengambil sebuah proposisi atau pernyataan yang diyakini kebenaran atau kesalahanya oleh individu maupun oleh manusia pada umumnya. Oleh karena itu, logika menurut saya merupakan pemicu awal dari apa yang akan kita lakuakan (pemicu tindakan manusia). Misalnya, karena saya yakin kalau cuaca mendung itu hari akan hujan maka saya memutuskan untuk tidak keluar rumah atau saya keluar rumah tapi bawa payung karena saya tidak ingin kehujanan. Dari contoh tersebut merupakan sebuah pengambilan keputusan tindakan yang didasari oleh penalaran manusia(atau dalam logika dasar bisa disebut penyimpulan /konklusi).
Dalam menyimpulkan penalaran-penalaran yang kita miliki dapat juga berpotensi terjadi penyimpangan atau dalam logika dasar disebut Kesesatan (fallacy), secara umum ada 2 sebab kesesatan, yang pertama adalah kesesatan karena bahasa maksudnya kesesatan yang ditimbulkan karena ketidaksamaan dalam mengartikan suatu kata/lebih luasnya bahasa. Yang kedua adalah kesesatan relevansi yaitu kesesatan karena kesalahan dalam penalaranya maupun dalam menyimpulkanya (konklusinya) atau gampangnya karena penalaran maupun konklusinya tidak relevan. Lalu apa dampaknya kesesatan bagi tindakan manusia? Tentu saja orang yang mengalami kesesatan adalah orang yang beda pengertian-nya dari orang umum sehingga tindakanya pun akan berbeda sekali dengan orang umum lainya. Misalnya saya yakin bahwa Andi meninggal akibat diserang oleh perampok karena ada bekas goresan ditanganya, padahal menurut dokter Andi meninggal bukan karena lukanya tetapi akibat serangan jantung yang dideritanya sewaktu dirampok. Dari contoh tersebut saya mengalami kesesatan yang berakibat tindakan saya yang langsung menghakimi perampok tersebut. Namun dalam hal kesesatan ini saya tidak berani meyakini untuk menyimpulkan seseorang mengalami kesesatan atau tidak karena dalam menyimpulkan harus tidak terbatas secara numerik maupun secara temporal. Maksudnya fakta tersebut harus bisa dibuktikan dalam waktu kapan saja dan berapapun jumlah percobaanya hasilnya harus sama baru itu disebut sahih atau tidak sesat.
Tindakan Manusia Sebagai Fakta Pembuktian Logika
Dalam membuktikan penalaran-penalaran yang diperoleh oleh manusia secara empirik maupun pengetahuan yang bisa ditangkap langsung oleh logika tanpa harus melihat pengalaman yang nyata, maka manusia melakukan usaha untuk membuktikan penalaran tersebut dalam sebuah tindakan. Kaitanya tentang tindakan manusia ada sebuah ilmu yang mempelajari khusus mengkaji itu yaitu praksiologi. Cakupan praksiologi itu sendiri adalah tindakan manusia itu sendiri, tanpa memandang keadaan lingkungan atau faktor-faktor kebetulan dan individual dari tindakan-tindakan yang konkret.
Terlepas dari cakupan yang dikaji oleh praksiologi, menurut saya tindakan manusia dipengaruhi oleh penjatuhan nilai manusia itu sendiri. Maksudnya bahwa ketika saya akan melakukan sesuatu, ibaratnya saya disebuah perempatan, saya pasti akan berfikir mau kemana harus berjalan,, mau lurus?kekanan?atau kekiri? Gampangnya misal saya setelah jam 7 bangun tidur maka saya berfikir apakah saya harus kuliah kekampus?tidur lagi?atau pergi ke suatu tempat? Ketika saya memutuskan untuk kuliah dikampus maka saya menganggap bahwa kuliah lebih bernilai daripada tidur ataupun pergi kesuatu tempat, begitu sebaliknya.
Terkait dengan tindakan manusia secara individu,dan melihat dari contoh diatas maka jelas terlihat bahwa tindakan manusia dalam penjatuhan nilainya adalah bersifat otonom dari pihak luar dirinya. Maksudnya bahwa dalam penjatuhan nilai yang dijadikan titik tolak tindakanya merupakan inisiatifnya sendiri, sedangkan input yang diberikan pihak luar adalah sebuah suplemen saja, yang sifatnya (ada atau tidak) tidak berpengaruh langsung atas tindakanya. Misalnya: merujuk dari contoh diatas ketika sehabis bangun tidur saya menganggap bahwa tidur lagi itu lebih penting daripada kuliah, namun oleh pacar saya disuruh kuliah kekampus, dan saya pergi kekampus. Kepergian saya kekampus bukan karena kuliah lebih bernilai, tetapi karena saya menganggap jika saya mengikuti kata-kata pacar saya lebih mempunyai nilai (keuntungan) daripada saya tidur. Contoh diatas menunjukan bahwa posisi pihak luar adalah pemberi opsi lain bukan penentu atas penjatuhan nilai, mungkin saja saya bersikukuh untuk tidur karena opsi yang ditimbulkan oleh pacar saya lebih kecil nilainya.
Catatan untuk sub-bab tindakan manusia : karena literatur yang saya baca mengenai tindakan manusia rata-rata adalah para filsuf ekonomi. Maka mungkin berbeda penerapan teknis tulisan ini dengan buku-buku yang saya baca. Misalnya dalam bukunya Ludwig Von Mises yang sudah diterjemahkan dengan judul “Persoalan-Persoalan Epistemologi Dalam Ilmu –Ilmu Pengetahuan Yang Mengkaji Tindakan Manusia” disitu disebutkan bahwa makhluk yang bertindak adalah makhluk yang tidak merasa puas dan oleh karenanya ia tidak maha kuasa.jika ia merasa puas, ia tidak akan bertindak....., sedangkan dalam tulisan ini tindakan manusia bukan karena kepuasan tetapi karena ada perbedaan nilai dalam setiap pilihan yang ditimbulkan oleh penalaran manusia secara sadar. Sekali lagi saya tidak mendebat apa yang diungkapkan oleh Mises namun saya berusaha untuk melihat dari sisi lain tentang tindakan manusia.
Etika Sebagai Orientasi Tindakan Manusia
Cakupan etika dalam tulisan ini adalah etika sebagai sarana orientasi (arah) dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan oleh setiap individu ataupun akumulasi dari tindakan-tindakan individu yang di klaim menjadi tindakan komunal. Namun sekali lagi sifatnya seperti bahasan sebelumnya yaitu hanya sebuah suplemen yang tidak berpengaruh secara langsung terhadap tindakan manusia dan cenderung sebagai indikator penilaian suatu tindakan manusia oleh manusia lain.
Dalam hal ini, etika atau biasanya lekat dengan kata moral merupakan sebagai norma-norma dasar manusia yang diyakini kebenaranya oleh individu maupun komunal (organisasi, masayarakat, negara dll). Dengan kita tahu etika dalam suatu masyarakat maka tindakan kita dipaksakan untuk digolongkan kedalam baik-buruk, benar-salah dan sejenisnya oleh masyarakat tersebut. Misalnya tindakan mencuri itu dianggap perbuatan buruk oleh masyarakat dan salah oleh negara. Begitu juga bahwa tindakan menyumbang kepada orang miskin itu adalah perbuatan yang baik. Namun perlu di ingat bahwa manusia juga punya kehendak bebas yang mana manusia mempunyai kemapuan untuk untuk menentukan dirinya sendiri. Dari benturan-benturan kehendak bebas dari masing-masing individu tersebutlah maka timbul etika ataupun moral. Contohnya kita bebas melakukan apapun tak terkecuali parkir ditengah jalan,tetapi itu juga akan mengganggu kebebasan orang lain yang mau lewat, oleh karena itu suatu organisasi, masyarakat maupun negara muncul yang namanya etika yang berupa norma-norma dasar yang dijadikan orientasi tindakan manusia.
Catatan: dalam sub-bab etika ini sengaja saya tidak membahas tentang etika atau moral yang ditimbulkan oleh agama karena terlalu sensitive untuk dibahas, namun secara umum dalam teori etika dasar, hal ini di sebut dengan determinisme religius.
Apabila kita membicarakan tentang tindakan manusia pastilah tidak ada habis-habisnya. Namun dalam tulisan ini saya mencoba merangkai bahwa tindakan manusia diawali dari aktifitas logika penalaran kemudian dinyatakan dengan tindakan dan diyakini dengan etika atau moral. Pernyataan yang saya lontarkan tersebut memang terlihat gegabah. Namun harapan saya dengan kondisi ini bisa tercipta ruang diskusi yang lebih baik. 
Rekomendasi refrensi:
Franz Magniz-Suseno.1987. Etika Dasar: masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta: Pustaka Filsafat.
Poedjawiyatna. 1990. Etika (filsafat tingkah laku). Jakarta: Rineka Cipta.
Ludwig Von Mises di terjemahkan oleh Sukayasah Syahdan. Persoalan-Persoalan Epistemologi Dalam Ilmu –Ilmu Pengetahuan Yang Mengkaji Tindakan Manusia.
R. G. Soekadijo.1994.. Logika Dasar (tradisonal, simbolik dan deduktif). Jakarta : Gramedia Pustaka utama.
http://www.akal kehendak.com, beberapa tulisan terkait dengan praksiologi

Kamis, 11 November 2010

Pendidikan dan Riset Geografi Vs Krisis Lingkungan Global

Permasalahan pembangunan yang tidak ramah lingkungan dengan sadar ataupun tidak sudah kita rasakan dampaknya saat ini. Diantarnya adalah pemanasan global (global warming), serta dalam scope lokal seperti banjir bandang di Wasior, permasalahan ini merupakan akumulasi dari dampak pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Kondisi ini diperparah dengan kurang sadarnya masyarakat tentang menjaga lingkungan. Permasalahan bangsa, bahkan dunia ini merupakan persoalan yang tak kunjung ada upaya penyelesaianya.
Sejauh ini bangsa-bangsa didunia hanya mengupayakan pada tataran konseptual dengan berbagai perundinganya seperti konfrensi perubahan iklim di Bali dan konfrensi-konfrensi yang lain terkait dengan isu lingkungan global. Namun, pada tataran pelaksanaan mereka malahan saling menuding siapa yang harus bertanggung jawab dengan kerusakan lingkungan ini. Kemudian, sebagai kambing hitamnya adalah negara berkembang termasuk Indonesia dituduh sebagai biang keladi terjadinya krisis lingkungan global.
Terlepas dari kondisi politik dunia, paper ini akan membahas terkait dengan peran riset geografi termasuk peran pendidikan geografi sebagai transfer keilmuan dengan upaya pencegahan krisis lingkungan lokal maupun global.
Pendidikan Geografi sebagai Agen Pencetak Manusia Sadar Lingkungan
Krisis lingkungan yang kini terjadi merupakan tanggung jawab bersama, tak terkecuali dunia pendidikan. Sebagai agen yang strategis dalam transfer keilmuan, pendidikan dianggap punya kontribusi dalam membentuk kesadaran lingkungan. Dalam konteks pendidikan geografi memungkinkan adanya transfer gagasan yang mengarah pada lingkungan hidup, seperti yang ada di Indonesia kurikulum geografi yang diajarkan disekolah salah satunya bertujuan untuk membentuk perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumberdaya alam secara arif. (Dede Sugandi dan Mamat Ruhimat:2010).
Kesadaran lingkungan terhadap peserta didik akan terbentuk sejalan dengan adanya interaksi antara individu dengan lingkungan hidup serta adanya pengetahuan dan persepsi baru mengenai lingkungan hidup. Dengan melihat proses transformasi yang dilakukan oleh dunia pendidikan hal ini dapat dijadikan pembangunan yang berkelanjutan di bidang lingkungan. Ini dapat terjadi karena pada proses belajar akan terjadi apabila adanya proses pengolahan yang aktif dari pihak belajar. Pengolahan data yang aktif itu merupakan aktivitas lanjutan dari kegiatan mencari informasi dan dilanjutkan dengan penemuan-penemuan baru (Sri Hayati:2010).
Dengan adanya pembangunan yang berkelanjutan dibidang lingkungan hidup pada dunia pendidikan. Hal ini jelas bahwa pendidikan geografi adalah salah satu komponen penting dalam mencetak generasi yang sadar lingkungan sebagai upaya mencegah krisis lingkungan global yang melanda dunia. Selain itu, pendidikan geografi dianggap sangat efektif dalam upaya transformasi kesadaran lingkungan sejak dini karena semua negara di dunia dalam struktur kurikulumnya mengajarkan geografi.
Kontribusi Riset Geografi Dalam Mengurai Krisis Lingkungan
Kebutuhan manusia terhadap lingkungan yang tidak terbatas menjadikan kompleksitas masalah lingkungan yang dihadapi. Riset geografi saat sekarang ini diharapkan dapat membantu mengurai dan menjelaskan masalah-masalah yang kompleks dalam pembangunan khususnya pembangunan yang ramah lingkungan.

Pendekatan geografi yang meliputi 4 aspek yaitu keruangan (spatial), kelingkungan (ekologi), kewilayahan (regional), serta waktu (temporal) (Hartono:2010). Selain itu didukung oleh sistem informasi geografi (SIG) dalam proses riset geografi, maka secara langsung maupun tidak langsung arah riset geografi dapat memberi kontribusi dalam menganalisis permasalahan lingkungan serta dapat memberikan solusi yang solutif terhadap permasalahan tersebut.
Riset geografi dalam sektor pembangunan yang ramah lingkungan, maupun pembangunan lingkungan hidup khususnya di Indonesia antara lain sebagai berikut:
1. Peran geografi dalam pengelolaan lingkungan yaitu pemetaan distribusi kegiatan-kegiatan ekonomi menurut resiko pencemaranya, pemantauan tingkat pencemaran air secara teristik, identifikasi kegiatan ekonomi tertentu yang menyebabkan pencemaran, hingga pembuktian subtantif kejadian pelanggaran lingkungan.
2. Penelitian geografi di bidang sumberdaya lahan yaitu dengan pemetaan secara reguler dalam rangka pemantauan, monitoring perubahan untuk mengenali adanya pelanggaran dalam penggunaan lahan, ploting perijinan perubahan lahan untuk memantau kesesuaian antara rencana dan implementasi perubaha guna lahan. (R. Rijanta: 2010)
Dan masih banyak lagi sektor-sektor penerapan geografi terkait dengan upaya pembangunan berwawasan lingkungan yang berkorelasi langsung terhadap krisis lingkungan. Dengan berbagai macam riset geografi mengenai lingkungan maka ilmu geografi merupakan tonggak penting dalam upaya pencegahan krisis lingkungan global yang saat ini melanda.

Kesimpulan
Pendidikan geografi sebagai transformasi keilmuan dalam mencetak generasi yang sadar lingkungan serta riset geografi yang mengarahkan kepada pembangunan yang berwawasan lingkungan. Keduanya merupakan merupakan tonggak penting dalam upaya mengatasi krisis lingkungan global yang semakin terpuruk.

Jumat, 01 Oktober 2010

Nasionalisme gue terlalu mahal

Oleh: Tahmid Fitrianto
Setiap zaman itu ada roh zamanya, penggalan kalimat itu yang biasa diucapkan oleh kawan saya mahasiswa sejarah. Namun, roh nasionalisme tampaknya masih saja sama dari dulu hingga sekarang. Nasionalisme hanya untuk orang-orang yang berduit,orang yang punya kedudukan, itu juga kata sejarah. Mengapa tidak? Orang-orang yang tercatat dalam sejarah adalah orang-orang yang menyumbangkan seluruh harta, tenaga maupun pikiran. Coba kita ingat adakah sosok pejuang miskin kita yang tercatat dalam sejarah, ya..paling mereka hanya tercatat sebagai “para pahlawan yang telah mendahului kita” itu pun disebut saat upacara.
Lain dulu lain sekarang, namun karena rohnya masih sama sekarang-pun nasionalisme terlalu mahal dinegara kita. Ada fakta unik dibalik mahalnya sebuah nasionalisme dinegara kita. Sekarang, untuk menjadi pejuang negara yang dengan bangga kita sebut TNI (Tentara Nasional Indonesia), setidaknya harus merogoh kocek yang terlalu dalam bahkan itu sudah menjadi rahasia umum. Lalu pertanyaanya, bisakah orang miskin ikut pesta dalam bingkai nasionalisme. Oleh karenanya tidak heran apabila sebagian dari saudara kita yang lebih senang mengabdikan diri menjadi tentara negara tetangga, karena disana harga nasionalisme terlalu rendah malahan disana mereka dibayar bukan sebaliknya yang terjadi dinegara kita.
Rasa-rasanya mahalnya sebuah nasionalisme ini juga dirasakan oleh saudara kita yang ada diperbatasan. Info ini saya peroleh dari kawan saya dari Riau waktu ikut fisip nationl camp dijakarta, mereka bercerita dengan saya untuk membeli sembako produk dalam negri ternyata lebih mahal dari harga sembako negara tetangga yaitu Malasyia. Karenanya untuk makan sehari-hari sebagian dari mereka lebih suka belanja di negara tetangga, itu wajar karena memang harga nasionalisme kita terlalu mahal.
Kedua fakta unik itu adalah sebagian kecil dari banyaknya dampak dari mahalnya sebuah nasionalisme dinegara ini. Yang terlihat jelas dimata kita bahwa ada sebuah hukum timbal balik yang terjadi dalam mempertahankan nasionalisme, karena untuk mendapatkan jiwa nasionalisme mereka harus bayar, maka untuk memperpanjang jiwa nasionalisme mereka juga harus dibayar. Ya...itu rasa-rasanya sudah menjadi hukum yang tidak bisa ditinggalkan dinegara ini, oleh karenanya sebagian dari mereka banyak yang kejar setoran dan hasilnya digertak oleh negara tetangga saja kita tidak berani angkat senjata. Itu wajar karena mereka masih sibuk kejar setoran, yang pastinya tidak mau sibuk-sibuk mati konyol sebelum setorannya cukup.
Memang, nasionalisme itu banyak cara namun kalau kebanyakan cara yang harus ditempuh ujung-ujunnya harus merogoh kocek sendiri,bingung juga mau mati-matian demi negara. Bayangkan saja untuk menjadi TNI atau Polisi kita harus bayar oknum,padahal dinegara tetangga pejuang-pejuang itu malahan tidak ada yang minat. Itulah indonesia dari dulu memang semangat nasionalismenya sangat tinggi, sampai-sampai dinegri sendiri tidak terakumulasi lalu jadi tentara negara tetangga yang tidak harus modal mahal, ya..paling-paling modal badan sehat.
Sebagai penutup tulisan ini, saya sekali lagi ingin menegaskan bahwa nasionalisme yang berlebih memang tidak sehat, ditengah zaman sudah merdeka. Gerakan nasionalisme sekarang adalah bukan hanya scope lokal, ataupun nasional namun gerakan cinta sesama secara global karena kemerdekaan dalam segala hal adalah hak semua manusia tak terbatas satu keturunan, ras ataupun bangsa.

Senin, 20 September 2010

Ijazah-“ku” Diskriminatif

Pagi itu si Tono dengan semangat membawa selembar kertas yang terbungkus rapi di stopmap dengan segala pirantinya, ia berharap dengan lembaran yang biasa orang menyebutnya ”ijazah” dapat memberikan dia pekerjaan. Kemudian sore itu dia pulang dengan wajah tertunduk penuh kecewa karena ijazah-nya tidak bisa berbuat apa-apa, padahal selembar kertas itu dia dapatkan dari jerih payah kuliah selama bertahun-tahun.
Cerita diatas merupakan sebuah potret nyata dampak dari selembar kertas yang disebut ijazah. sebagian besar dari kita terjebak pada simbol-simbol yang anehnya dikeluarkan dari mimbar akademik. Ijazah dianggap sebagai manuskrip sakral yang bisa memberikan ia pekerjaan dan apabila benda itu rusak sedikit saja bisa dianggap murtad (tidak diakui secara akademis), sehingga mereka menjaganya dengan sepenuh hati. Memang aneh tapi nyata, namun ini potret sistem yang dianggap benar oleh negara ini.
Gara-gara satu lembar yang bernama ijazah maka ada banyak profesi, semisal guru dengan ijazah S.Pd nya, Insinyur, dokter dan banyak profesi aneh-aneh yang dibuktikan dengan selembar kertas itu. Yang anehnya lagi, mereka mengklaim bukan dengan skill yang mereka miliki tapi dengan selembar kertas ijazah. Sadar atau tidak bahwa ijazah banyak menimbulkan masalah, berikut beberapa temuan aneh yang disebabkan oleh ijazah:
1. Dari prosesnya saja sudah menimbulkan diskriminasi, betapa tidak ketika masyarakat dunia menyuarakan education for all namun kenyataanya akses pendidikan negara ini milik orang kaya. Sehingga ada istilah pelajar, putus sekolah,orang terbelakang, dan banyak istilah yang disematkan kepada mereka yang tidak sekolah, yang tentunya tidak pula punya ijazah. Sehingga kasus diskriminasi nampak disini, akibat ulah simbol akademik. Bayangkan saja apabila sekolah hanya untuk akses mendapatkan skill, pasti orang nongkrong dibengkel saja bisa jadi insinyur mesin dan pengamen bisa jadi sarjana seni.
2. Banyaknya orang yang ingin gelar namun dengan ijazah, maka banyak kasus juga ijazah abal-abal atau bahkan yang ekstrim lagi gara-gara pengen ijazah doktor harus bersusah payah plagiat disertasi. Yang lebih kasihan lagi gara-gara pengen punya ijazah sarjana mereka harus merelakan hijrah kekota besar dari rumahnya yang terpencil diatas sana, hingga menghabiskan aset yang dimilki keluarganya.
3. Ijazah menentukan nasib seseorang, hal ini nampak nyata-nyata di institusi pemerintahan kita. Walaupun ada orang punya skill bagus namun tidak punya ijazah maka tidak sedikitpun mereka berhak untuk bekerja di institusi pemerintah. Padahal tidak sedikit mereka yang punya kemampuan yang baik, namun tidak punya lembaran kertas itu dan tidak sedikit pula yang punya ijazah tapi tidak punya kemampuan yang diterangkan dalam ijazah. Dengan alih-alih untuk pengakuan, terlalu picik apabila kita lebih percaya yang punya ijazah.
Sebenarnya banyak hal-hal konyol disekitar kita gara-gara ulah selembar kertas yang dianggap sakral. Kritik ini sebenarnya sudah dilakukan di India dengan merilis film “3 idiots” yang menghadirkan sosok Rancho yang ingin mengubah sistem pendidikan,ketika melihat film itu rasa-rasanya problem itu sama seperti dinegara kita.
Kalau tidak ada ijazah, lalu bagaimana kita harus mengakui orang tersebut mampu dalam bidangnya? Sebenarnya masalah ini sudah diterapkan dinegara ini seperti sistem pendidikan pesantren (yang saya contohkan sistemnya bukan content ajaranya). Pesantren setidaknya mengajarkan sistem pendidikan yang fair, misalnya ketika santri itu menyelesaikan pendidikanya mereka tidak diberi ijazah yang menunjukan bahwa santri tersebut sudah sampai kitab apa, dan jenjang apa. Masyarakat hanya menilai bahwa santri tersebut diakui sebagai pedakwah kalau dia punya kemampuan da’wah, begitu juga santri diakui jadi pengajar atau guru spiritual apabila dia mampu mengajarkan ilmunya, disini jelas pengakuan masyarakat hanya dari skill jadi orang luar yang bukan lulusan pondok juga punya akses menjadi pedakwah atau guru spiritual tanpa harus menunjukan ijazah lulusan pondok. Kalau pendidikan pondok pesantren saja bisa se-fair itu, mengapa tidak sistem pendidikan negara ini juga bisa fair seperti institusi tersebut?hm....hanya kita yang tau....